Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Hasil Ngegombal Mlaku-mlaku

Blog EntryFeb 21, '11 5:46 PM
for everyone

Tashi Delek,   

Pada 13 October 2010, pukul 17:02 waktu Beijing saya tiba di stasiun kereta kota Lhasa. Bangunan besar warna putih yang nyaris seperti bandara kecil ini berdiri dengan angkuhnya menerima kedatangan kereta T22 yang berangkat dari ibukota provinsi Sinchuan, Chengdu.   

Kami (saya dan tiga kawan indobackpacker) baru saja menempuh 45 jam perjalanan melintasi Qinhai dan pegunungan Tibet menembus landscape negeri China. Jalur kereta ini sering disebut jalur tertinggi di dunia karena altitute yang dicapai hingga 5000mdpl. Alasan saya yang utama memilih kereta karena ingin melakukan aklimatisasi dengan bertahap sebelum mencapai target selanjutnya: Everest Base Camp. Hanya saya yang pernah menembus angka 5K tadi, sedangkan tiga kawan belum pernah sekalipun. Biarpun begitu sayalah yang paling dulu merasakan efek ketinggian. Di hari kedua diatas kereta, saya mulai pusing. Sedangkan dua kawan yang diver mengaku tidak bereaksi apapun, satu orang yang bukan seorang pecinta outdoor malah sehat walafiat.   

Dengan keretaapi, perjalanan menuju negeri atap dunia Tibet lebih nikmat dan tidak terasa membosankan. Buat para pecinta KA, moda transportasi ini memberikan alternatif untuk mempelajari landscapes, tata geografis, cara hidup dan budaya sepanjang jalan. Plus melihat dari dekat teknologi infrastruktur China. Disisi lain memberikan kesempatan pada tubuh untuk beraklimatisasi pada perubahan ketinggian.   

Banyak hal yang perlu diluruskan tentang TTB (Tibet Travel Permit). Untuk membeli tiket kereta api tidak perlu menunjukkan TTB asli, melainkan cukup fotokopian saja. Termasuk ketika berada diperjalanan kereta. Dalam 45jam tercatat dilakukan satu kali pengecekan dokumen (beberapa jam setelah naik dari Stasiun Chengdu), satu kali pengecekan karcis (malam kedua). Secara teori, TTB bisa diproses onlen dan dikirimkan via email, tanpa harus diperoleh bentuk aslinya. Ini juga mengurangi biaya ongkos kirim, birokrasi dan fee agen. Catatan: TTB seharusnya gratis tetapi harus diurus oleh agen. Oleh agen ybs bisa dikenakan fee yang biasanya diset harga sendiri. Biaya ongkos kirim dokumen berdasarkan urgensi juga mempengaruhi. Untuk moda pesawat, TTB harus ditunjukkan asli sebelum boarding. So, keretaapi lebih rileks, less complicated dan tentu saja lebih slow but sure.   

Dalam beberapa hal Lhasa tidaklah seperti tahun 1960an. Saya merasa terlempar pada realitas bahwa Tibet bukanlah negeri independen. Nostalgia novel Lost Horizon tentang negeri Shangrila sangatlah jauh dari kenyataan. Negeri indah diatap bumi, dimana manusia hidup lebih panjang, tidak ada rasa sakit, tidak ada penderitaan, sepertinya tidak terpantul di Tibet. Lhasa berubah wajah seperti kota-kota di China lainnya. Identikal di satu sisi, menunjukkan pergulatan antara modernitas dan menjaga kultur setempat. Tidak banyak orang Tibet asli yang bisa mendapatkan ijin bisnis di Lhasa, akibatnya fasilitas pariwisata hanya dinikmati suku Han yang didatangkan dari sisi lain China. Dan jangan heran jika anda di Tibet merasakan bahwa hampir 90persen pengunjung wisata adalah orang China.   


Di Lhasa, tiga situs warisan dunia (World Heritage Sites) adalah Potala Palace, Jokhang Monastery, Norbulingka Summer Palace patut ditengok. Hanya saja untuk yang terakhir, kondisinya cukup memprihatinkan. Disinilah Dalai Lama ke 14 aka Tenzing Gyatso ditahun 1959 berhasil menyelundup dari Lhasa menuju tempat pengasingannya sekarang di Dharamsala India. Jika guide anda seorang Tibet, ia akan menunjukkan bagaimana Dalai Lama menyamar sebagai orang biasa, menembus pintu samping istana, menyeberang sungai ditemani 30 orang satria Khampa. Kisah ini selalu diceritakan dengan penuh waspada karena sangat sensitive. Jangankan bercerita, lha gambar Dalai Lama saja dilarang dipajang diseluruh Tibet. Saat inipun, Barkhor Street dijaga dengan ketat oleh tentara China, dipatroli tiap 10menit dengan beberapa sniper di atap bangunan. Efek protes damai yang berubah kerusuhan di tahun 2008 masih terasa.   

Kami bergerak keluar Lhasa menuju Everest Base Camp (EBC) dua hari kemudian. Perjalanan panjang melewati Friendship Highway ini sebenarnya tidaklah berat. Hanya saja karena melewati beberapa Pass dengan ketinggian di atas 5000mdpl membuat harus berjaga-jaga. Berbeda dengan EBC sisi Nepal yang harus ditempuh dengan trekking alias jalan kaki, EBC Tibet sangat mudah dijangkau. Begitu memasuki Shegar, pos jaga militer China menanyakan Alien  Travel Permit khusus untuk memasuki wilayah ini. Biarpun jalanan terjal dan tidak rata toh minibus bisa saja menjangkau. Lima puluh kilo dari pintu jaga menuju EBC dicapai lebih dari 2jam. Kami menginap di tenda terpal, dimana suku nomadik Tibet menyediakan ruang hangat dari bahan bakar yak dung (tahi yak).   


Secara view, Everest sisi Tibet menawarkan penampakan yang lebih spektakuler. Bentukan punggung dengan Lhotse dan gigir North East serta Rongpu Glacier terlihat nyata dan megah. Tiga tahun lalu ketika saya trekking sisi Nepal via Kala Pattar, agak susah menunjuk Sagarmatha sebagai Chomolungma. Sejarah pendakian sisi Tibetpun lebih berliku dibandingkan sisi Nepal. China mengklaim sebagai negara pertama menaklukan Everest di tahun 1960 tetapi tidak diakui oleh dunia internasional. Berbeda 7 tahun dibandingkan dengan Hillary-Tenzing sisi Nepal di tahun 1953.   

Rasanya julukan negeri atap dunia sangatlah pas ditempel pada Tibet. Tapi benarkah atap dunia itu memberikan kedamaian atau setidaknya memberikan peneduh pada manusia seperti yang disampaikan Dalai Lama? Hanya waktu yang akan menjawabnya.   

Oom mane padme hum.       



Tips untuk menjadi responsible traveler di Tibet: 

1. Usahakan mendapatkan guide orang Tibet untuk memberikan perpektif lokal. 
2. Bacalah sejarah kontemporer Tibet dan pergulatan politik untuk memahami latar belakang negeri ini. Di LonelyPlanet cukup memberikan background sekilas. Ini akan membantu mengisi kanvas Tibet dengan warna yang lebih jelas, bukannya buta sama sekali. Terlalu banyak informasi yang diserap hanya dalam beberapa hari. 
3. Jadilah photographer yang sensible, artinya jika kita mengunjungi Tibet berarti menghormati orang yang beribadah, situs yang tidak memperkenankan diambil gambarnya, ataupun harus membayar. Guide yang baik adalah menyarankan membayar jika memotret (fee dari 10Y hingga 120Y). Matikan lampu flash di kamera, minta ijin pada orang yang akan difoto. Cek setting kamera sebelum menjepret. Jangan memotret wajah penjaga, atau fasilitas yang dijaga militer juga daerah sensitive seperti kantor imigrasi.    

Photo-photo tentang perjalanan di Tibet bisa dilihat disini:
http://www.flickr.com/photos/ambarbriastuti/sets/72157625876593852/



Bulan November 2010.

'....the said Museum or Collection may be preserved and maintained, not only for the Inspection and Entertainment of the learned and curious but for the general use and Benefit of the Public.....'
-Undang-undang saat pembelian koleksi Sir Hans Sloane tahun 1753



Saya menjejak tanah Inggris dengan Easy Jet dari Praha. Penerbangan pagi di hari Sabtu itu ternyata penuh. Saya teringat beberapa tahun silam menggunakan pesawat oranye ini. Tidak ada yang berubah, hanya pelayanan lebih baik, senyum yang ramah, dan policy bagasi yang membuat saya terpaksa membuang tas buntut di bandara Ruzyne. Kali inipun saya juga berakhir di Stanted, London. Kota ini bisa dibilang adalah kota terakhir dari perjalanan backpacking panjang saya selama hampir 7minggu. Dari China-Tibet-Nepal-China-Mongolia-Rusia-Praha. Menilik perjalanan kereta Trans Siberia yang panjang menyeberangi daratan Asia menuju Eropa Timur, kota London adalah anti klimaks. Saya rindu bahasa Inggris dengan aksen 'cockney'. [1]

Kali ini saya mencapai kota memilih dengan kereta. Tiket Stansted Express yang saya beli diatas pesawat Easy Jet tidak terlalu meyakinkan. Hanya secarik nota kecil. Diskon yang dijanjikan 10% [2] dari harga semula agak menghibur. Lumayanlah buat ngongkos nge-tube nanti.

Tube (baca tub seperti youtube) atau London Underground atau kereta bawah tanah adalah moda transport favorit saya. Biarpun lebih kecil dari MRT di Singapura atau kereta Jabotabek, tube sangat mudah dinavigasi. Mudah? Well, itu tergantung juga. Membaca rute Tube paling mengasyikkan karena mengingatkan saya pada mata kuliah. Hari itu saya memilih one way ticket. Dari Liverpool St tempat saya turun dari Stansted Express, ganti ke Tube menuju penginapan di dekat Hyde Park via Central Line (jalur merah) itung diitung ongkos £4. [3]

Bulan November di London ternyata tidak seganas yang saya bayangkan. Bahkan Moscow tercatat paling hangat dalam puluhan tahun. Hanya saja karena berbagai urusan, kesempatan untuk jalan terbatas. Saya memilih tinggal dekat Hyde Park semata-mata ingin nuansa beda. Apalagi saya mengincar Natural History Museum, yang cuma selemparan batu. So rencana saya hanya kesitu saja, menikmati musim gugur di Hyde Park, menyusuri jalanan di Kensington hingga Marble Arch, dan berakhir menikmati suguhan theater di West End. Tidak terlalu ambisius.


Charles Darwin tak hanya 'Origin of Species'

Ketika mengunjungi Natural History Museum pertama kali tahun 2003, saya paling terkesan dengan koleksi dinosaurus dan cerita tentang kekayaan mineral dan geologi bumi. (Koleksi batuan dan mineral paling lengkap yang pernah saya lihat, sangat recommended buat yang suka 'ilmu batu').

Museum ini menjadi favorit saya karena gratis, tidak memungut biaya sepeser pun kecuali eksibisi khusus. Ini yang membedakan museum lain di dunia. Kebanyakan Museum milik pemerintah di Inggris adalah free. Saya sempat heran kenapa demikian. Ternyata jawabannya adalah seperti yang dikutip didepan, "...not only for the Inspection and Entertainment of the learned and curious but for the general use and Benefit of the Public."

Demi kepentingan umum dan pendidikan, museum diwajibkan gretong. Ini hukum fundamental. Lhah trus bagaimana museum mendapat uang untuk memelihara eksistensinya? Ternyata sistem donasi dan riset adalah yang paling diandalkan. Jadi kalau liat ada gelas besar berisi uang donasi, sempatkan memberi £1-2 untuk menghargai para pekerja disana.

Tapi saat ini saya ingin khusus mengunjungi Darwin Centre yang baru dibuka. [4] Apalagi tahun 2009 adalah 200tahun peringatan hari lahirnya. Buat yang dulu belajar biologi di sekolah, Charles Darwin selalu dikaitkan dengan perjalanannya ke Galapagos, Ekuador dan menempatkan 'Natural Selection' sebagai metode survival bagi mahluk hidup di bumi. Well, terus-terang di sekolah, sangat sedikit yang disampaikan Pak Guru tentang efek Charles Darwin terhadap sains dan tehnologi. Kecuali ya itu tadi, tentang seleksi alam.

Salah satu yang membuat saya tertarik dengan Darwin ternyata bukan hanya sains, tetapi kehidupan pribadinya. Dimata saya, Darwin adalah seorang yang sangat dalam akan philosophy dan religious, mengerti efek seleksi alam-nya di buku The Origin of Species yang akan merubah dunia untuk selamanya. Tidak hanya tentang burung finch (kutilang), atau kura-kura raksasa. [5]

Darwin Centre di Museum Natural History ternyata didesain sebagai jendela untuk melihat dari dekat bagaimana para saintis bekerja baik di laboratorium dan di lapangan. Jadi ruangan yang dibangun dengan konstruksi dome menyerupai kepompong raksasa ini disambungkan dengan ruang laborat yang bisa melihat saintis bekerja. Dimulai dari bagaimana membagi spesies, memotret serangga yang sangat kecil, melihat struktur tubuh, hingga skema genetik. Bentuk arsitektural Darwin Centre-pun tampil sangat menawan, karena menggabungkan gedung kuno dengan kontemporer material seperti gelas, beton dan baja. Terlihat sangat modern dengan detail aplikasi tehnologi seperti multi screen, 3D, tablet viewing, interactive games, virtual class, dan tentu online. (Yakni membawa binatang/tumbuhan favorit untuk 'disimpan' di online akun). Sangat edukatif untuk berbagai umur, baik anak-anak dan orang dewasa.


Kegagalan Monumen dan Nyewa sepeda

Sewaktu melintas Hyde Park di tahun 2003, Princess Diana Memorial baru saja diresmikan. Tapi saya kecewa karena air mancur (fountain) yang menjadi icon dimatikan karena alasan keamanan. Well, memorial ini memang sengaja ditempatkan disini karena keterikatan dengan Kensington
Palace, tempat tinggal Princess Diana hingga meninggalnya tahun 1997. Akses ke Kensington Palace saat ini dibuka untuk publik [6], tapi masih bisa dinikmati sambil jalan kaki di Hyde Park jika malas masuk.

Kenapa fountain tadi dianggap gagal? Salah satu alasan karena biaya yang sangat tinggi dan kemanfaatan publik. Tiga tahun proses desain menjadikan proyek ini kontroversial. Bukan saja jadi ajang kritik arsitek juga pematung dunia karena prosesnya yang tertutup. Saya merasakan kesan yang sama. Fountain yang dibuat memutar itu terasa tidak ada esensinya, tidak ada kesan mendalam. Tidak fun untuk bermain anak2 seperti yang diinginkan Putri Diana karena ia terkenal dekat dengan kegiatan charity. Mungkin memorial itu ditakdirkan seperti dirinya yang penuh kontroversial.

Mata saya tertumbuk pada konter sewa sepeda. Ini hal baru semenjak pak Walikota London yang hobi naik sepeda mencanangkan untuk membuat skema penyewaan sepeda di pojok2 strategis kota London. Saya sempat skeptis. Dalam dua hari saya mengamati perkembangannya. Boleh percaya tidak, di musim dingin begini tetep laku! Begitu siang hari hanya dua sepeda yang tersisa di rak. Sistem pembayaran dengan debit/credit card di 'docking station'. Tigapuluh menit pertama gratis, sedangkan seterusnya dikenai £1/24hours atau £5/7hari. Untuk turis/pengunjung, status peminjaman adalah 'Casual Use' yang tidak memerlukan membership. So samperin ke docking station dan mencobai disana. [7]


Ketika Berada di Ibukota Theater

West End di London berpasangan dengan New York-nya Broadway adalah ibukota teater atau pertunjukkan live. Dari musikal, tari, musik, hingga komedi. Rasanya sayang jika tidak disempatkan mampir menikmati suguhan terbaik. Saya memilih komedi ketimbang musikal, mungkin karena saya saat ini bisa memahami komedi ala British. Bukan masalah bahasa, tapi 'sense of humour' nya ternyata beda sama sekali. Jadi nonton komedi di West End ini sebagai tantangan selera humor saya. Kalau saya bisa tertawa, berarti paling tidak saya menikmatinya.

Saya memilih Yes Prime Minister karena ini diangkat dari seri komedi televisi di BBC era 80'an. Seperti terefleksi dari judulnya, Yes (Prime) Misnister berkisah tentang keseharian di kantor PM Inggris. He he he...jadi jika ini mengingatkan anda pada serial West Wing di televisi Amerika tentang kehidupan di kantor Gedung Putih presiden Amerika Serikat, jadi tau kan siapa yang menginspirasi siapa.

Beda dengan West Wing, Yes Prime Minister bisa dibilang satire, sinis dan biasa disebut komedi politik. (Salah satu genre yang sekarang marak di Indonesia). Bedanya lebih ke personal. Perdana Menteri disini digambarkan sebagai pribadi yang berada disimpang jalan antara kepentingan publik dan kepentingan menjaga reputasi. Plus kepentingan partai dan intrik. Tapi jangan dianggap serius, semua disuguhkan dengan satir, ngenyek dan plesetan. Buat saya yang kenyang dagelan Mataram, komedi jenis Inggris ini sangat mudah diabsorbsi. Ada kemiripan yang sangat jelas.

Memesan tiket mendadak lewat online agak tricky [8], jadi saya putuskan telpon langsung. Letak teater di sepanjang West End sangat mudah untuk ditelusuri. Sepanjang jalan dari teater kecil hingga besar mencantumkan jadual. Nyala lampu neon terang benderang dengan judul pertunjukkan memberi cahaya. Penampilan Yes Prime Minister di Gielgud Theatre, berukuran sedang dengan format balkoni.

Jika anda di London dan ngga mampir di West End, rasanya rugi. Banyak show yang berkualitas dengan harga murah seperti Les Miserables (£16.25), We Will Rock You (£30.00) atau STOMP (£49.50). Saya sendiri merasakan dengan harga sekian, kepuasan lebih besar. Dibandingkan dengan harga karcis di Broadway, paling tidak West End menampilkan kemungkinan nonton murah.

Sepertinya London adalah anti klimaks. Tiap kali berkunjung, saya menemukan tantangan baru. Kali ini lebih rileks, have fun dan menikmati seperti turis. Ternyata memang lebih menyenangkan begitu.




Catatan kaki dan tautan:

[1] Untuk belajar aksen cockney (aksen London) cara termudah adalah lewat film. Beberapa yang menurut saya ditaburi bahasa ini adalah Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998), Snatch (2000 -ngakak nonton Brad Pitt ngomong aksen ini) dan RocknRolla (2008) dari sutradara Guy Ritchie.  Cara lain jika nonton Globe Trekker, simak presenter Ian Wright.

[2] Stansted Express diskon 10% di
http://www.easyjet.com/EN/Planning/Travel/stnexp.html

[3] Saya menggunakan Journey Planner: http://journeyplanner.tfl.gov.uk untuk membantu merencanakan jalan dengan Tube. Peta kereta bisa diperoleh gratis di tiap stasiun, berikut tiket.

[4] Darwin Centre website
http://www.nhm.ac.uk/visit-us/darwin-centre-visitors/index.html

[5] Salah satu film tentang kehidupan pribadi Darwin adalah Creation (2009). Trailer bisa dilihat disini http://www.youtube.com/watch?v=fkgoS3vSE0k

[6] Mengintip Kensington Palace dan membeli tiket masuk
http://www.hrp.org.uk/KensingtonPalace/

[7] Petunjuk untuk menyewa sepeda di London
http://www.tfl.gov.uk/roadusers/cycling/15023.aspx

[8] Saya mencobai tiga situs untuk memesan, tapi ternyata karena kurang dari 48jam saya tidak bisa pesan online. Salah satu yang saya rekomendasikan karena ada 50% diskon atau theater dengan harga £10an adalah http://www.lastminute.com/site/entertainment/theatre/

Sedikit photo di Hyde Park London:
http://www.flickr.com/photos/ambarbriastuti/sets/72157625642539118/

http://www.flickr.com/photos/ambarbriastuti/sets/72157625479465775/





Saya menulis petikan perjalanan ke kota Xi'an di China untuk Majalah Umag, salah satu anak dari Tempo. Yang membuat saya terkesan dengan kota ini adalah suasananya yang mirip Jogjakarta. Kuno, banyak peninggalan lama tapi menunjukkan dinamisme penduduknya.

Sudah lama saya membaca tentang Xi'an. Bahkan niat awal saya menuju kota ini karena nonton eksibisi tentang Jalan Sutra di kota New York. Tepatnya di American Museum of Natural History sekitar setahun yang lalu. Eksibisi itu terbatas dan tidak bisa diambil dengan kamera. Tapi mengintip konsep dan gelaran disana membuat saya seperti kembali ke ribuan tahun yang silam. Ada unta lengkap dengan perbekalan dan barang yang dibawa para sodagar. Ada sudut yang seperti pasar, menunjukkan barang atau komoditi apa saja yang diperjual belikan di Jalan Sutra (Silk Road). Dari sutra itu sendiri hingga buah-buahan, rempah dan tentu herbal (obat tradisional). Info bisa diintip disini

Lama saya tertarik dengan Jalan Sutra. Bukan saja karena para pejalan tangguh seperti Marco Polo dan Ibnu Battuta menjejak jalur ini, tetapi nilai sejarah dan proses akulturasi budaya dan agama menjadi satu disini. Barat dan Timur bertemu, berbagai agama saling bertinteraksi, perpaduan ras dan suku bangsa, dan tentu sejarah hitam penaklukan negeri dari Mongol hingga Persia. Xi'an sangat instimewa, bukan saja 'the last frontier' dari Muslim di China, tetapi juga menunjukkan sejarah jauh lebih dalam hingga berbagai dinasti Kaisar China dari Dinasti Qin, Han hingga Tang. 

Saya bahkan sempat mencari literatur yang menunjukkan kultur China yang diadopsi oleh budaya Malay, atau kemudian tersebar hingga pulau Jawa. Salah satunya adalah memukul bedug sebagai panggilan shalat. Saya menemukan tradisi ini mengambil dari budaya China yang ditransformasikan  masyarakat muslim di Thailand Selatan, hingga semenanjung Malaysia. Teori bahwa agama Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang India seperti textbook dulu membuat saya bertanya lagi. Betulkah? 

Mengirim photo kualitas terbaik untuk majalah yang bisa dipajang full bleed (satu halaman penuh) membuat saya tertantang. Terutama dengan kamera digital, diolah dan dikirim membuat kualitas bisa menurun. Entah menjadi pixel-ed (pecah) ataupun tidak sesuai dengan kalibrasi monitor. Syukurlah, ternyata dua hal tadi tidak terbukti. Setahun lalu pula artikel saya di Umag tentang Himalaya juga dipasang full bleed 2 halaman (per photo). Bisa dilihat arsipnya disini

Well, walaupun saya hanya sempat mengunjungi Xi'an, titik awal atau titik akhir Jalan Sutra tapi suatu saat nanti saya ingin menyusuri lebih dalam lagi. Jika tenaga, waktu, dan dana berkenan. Thanks again kepada editor dan photo editor. It's been really pleased to contribute once more. 




Blog EntrySep 23, '10 1:29 PM
for everyone

Pagi ini saya minum kopi kental. Suara perkutut bersahutan. Saya duduk di
beranda atau lanai. Di depan saya terhampar pepohonan lamtoro. Angin dari laut Pasifik masih semilir. Ah ya..rasanya saya seperti di kampung Gunungkidul saja. Ilusi sesaat yang kemudian menyadarkan bahwa saya berada di sebuah pulau bernama Big Island atau Hawai'i.

Tidak banyak yang tahu bahwa nama Hawai'i adalah sebuah pulau, bukan kepulauan apalagi negara bagian. (pulau=satu, kepulauan=banyak). Hampir pasti akan menunjuk Honolulu sebagai maskot Hawai'i. Sedangkan pulau ini kemudian kehilangan identitas diambil alih oleh Honolulu yang senyatanya berada di pulau bernama Oahu. Hawai'i kemudian disebut sebagai Big Island atau singkat saja seperti namanya Pulau Besar.

Alasan berkunjung ke pulau ini adalah dua hal: gunung api paling aktif didunia Kilauea dan puncak gunung Mauna Kea.

Kilauea hanya mungkin bisa dikalahkan oleh Merapi (USGS-HVO Hawai'i Volcanoes Observatory tidak berani mengklaim tetapi Kilauea meletus tanpa henti saat ini sudah 19tahun!). Berbeda dengan gunung-gunung api di Indonesia, Kilauea dan empat gunung di Big Island lainnya adalah produk hot spot, bukan bentukan dari Ring of Fire. Big Island sendiri adalah produk dari muntahan lahar gunung api jutaan tahun silam. So, kesempatan terbaik untuk menyaksikan lava pijar menyala, keluar dari perut bumi ada disini. Letak pijaran aktif bisa dinikmati di Hawai'i Volcanoes National Park di sisi selatan Big Island. Saya sempatkan menikmati muntahan magma menuju ke lautan lepas. Lava di Hawai'i juga sangat berbeda dengan lava di Merapi. Dari tingkat konsistensi, pijaran di Hawai'i lebih encer karena kandungan silika. Acara jalan saya tambah asyik karena didampingi geologist amatir (latar belakang geology tetapi tidak bekerja secara profesional). Darinya saya banyak sekali diceritakan perbedaan letusan gunung api didunia lain seperti Mt. Edna dan tentu diajak berburu bebatuan.

Mauna Kea adalah gunung mati, puncak tertinggi di Big Island. Diukur dari permukaan laut 'hanya' 4,205mdpl. Tetapi yang membuat puncak ini terkenal adalah karena akses kesana yang bisa dicapai dalam beberapa jam saja dengan kendaraan. Efek altitude sickness akan sangat terasa jika tidak melakukan aklimatisasi. Mauna Kea juga rumah bagi teleskop terbesar saat ini yakni Keck Observatory, plus beberapa teleskop milik negara lain seperti Jepang (Subaru- diambil dari gugusan Maia Nebula-Seven Sisters), NASA, UK, Canada-France-Hawai'i. Alasan utama menempatkan teleskop di puncak Mauna Kea tentu saja karena ketinggian, juga posisi yang terhindar dari awan berarak dan minimnya cahaya buatan yang bisa mengganggu pengamatan bintang. Praktis jika berada di puncak Mauna Kea seperti berada negeri diatas awan. Pemandangan sunset di puncak gunung ini sangat spektakuler. Plus dingin banget dan berangin kencang.



Saya sendiri memilih tidak ngikut tur selama di Big Island. Dua aktivitas diatas kebanyakan bisa dilakukan independen. Hanya untuk akses ke puncak Mauna Kea butuh kendaraan 4WD. Pihak autoritas hanya memperbolehkan bagi yang usia diatas 16th, tidak hamil, tidak ada gangguan sistem pernafasan, tidak melakukan diving dalam tempo 24jam sebelumnya. Ini karena efek ketinggian bisa membahayakan bagi individu dengan kondisi tsb. Apakah jalannya berbahaya? Bisa dibilang begitu karena dalam ketinggian 2,700an mdpl menuju puncak hanya berkisar 30menit saja, tikungan dan gradien tajam. Saya memilih bergabung dengan sukarelawan astronom Mauna Kea yang diadakan tiap Sabtu dan Minggu (free plus akses ke Keck Observatory).

Sedangkan Volcanoes National Park dihitung US$10 per kendaraan udah termasuk penumpang berlaku untuk 7hari. Jadi jika masih ngga puas, bisa disambung hari berikutnya. Hanya saja untuk melihat lava pijar yang menuju ke laut saat ini butuh kapal untuk bisa menonton dalam jarak dekat. Sedangkan akses dari National Park hanya bisa melihat kawah Halema'uma'u yang nampak berasap. Ohya Volcanoes National Park buka 24 jam, so menikmati kawah malam hari sangat menarik.

Lepas dari itu semua, duduk di beranda dengan segelas kopi nan lembut dari Kona, wilayah dimana saya tinggal ini tidaklah berbeda dengan Jawa. Saya jadi ingat ketika di perbincangan di milis. Ngapain sih jauh-jauh travel, kemudian menjumpai tempat yang seperti di tanah air?

Ini membuat saya bisa memahami kenapa ibunda Obama, Ann Dunham memilih tinggal di Hawai'i. Tempat ini betul-betul seperti Indonesia. (Ann Dunham doktor thesisnya adalah tentang anthropologi tenun/batik dan pandai besi di Jawa). Dari panas terik, nyamuk yang berkeliaran, suara 'kung' perkutut dan burung dara tanpa henti. Rasanya Big Island bukanlah Amerika. Ini adalah bagian Jawa di tengah Pasifik.

Buat saya, sebuah perjalanan tidak bisa dinikmati sepotong-potong. Disini saya menemui makanan, tanaman, cuaca dan mungkin landscape seperti Jawa. Tapi bukankah itu menandakan bahwa Big Island punya korelasi dengan Indonesia? Burung perkutut diceritakan berkembang biak karena dibawa imigran asal Jawa Tengah. Bahkan ketika menyusuri Waipio Valley, cerita disana adalah adanya orang Kalimantan yang menetap dan menjadi pekerja perkebunan talas di tahun 70'an atau terlibat sukarelawan tim perdamaian PBB.

Jadi setiap tempat punya cerita, biarpun landscapes sama. Ada pohon jambu air, jambu kluthuk, buah pace, alpukat, mlanding, pepaya. Tapi siapa yang menanamnya, siapa yang dibalik itu adalah perjalanan itu sendiri. Sebagai backpacker, kita tidak cuma menjadi penonton.

Mahalo!


Tautan:
Kilauea USGS http://hvo.wr.usgs.gov/kilauea/
Hawai'i Volcanoes National Park http://www.nps.gov/havo/
Mauna Kea Observatories http://www.ifa.hawaii.edu/mko/


Blog EntryAug 18, '10 10:31 PM
for everyone
zzzzz...zzzz...zzzz


Saya tidak tahu apakah ini bentuk antisosial, protes saya sebagai independen traveler. Saya jarang jalan dengan berbanyak, paling berdua atau bertiga. Atau mungkin bertemu sesaat dan kemudian pisah karena meneruskan perjalanan.

Dalam hal ini mungkin traveling buat saya adalah seperti mencari 'tranquility' atau kedamaian hati. Menjadi sendiri itu proses yang memberikan banyak kedalaman jiwa. Saya pernah merasakan suatu peristiwa yang begitu sendiri. Hanya diri sendiri. Tidak ada kawan mengadu, orangtua yang menasehati, pacar yang membantu, atau sodara yang mengulurkan tangan. Sebuah test yang luar biasa.

Dalam perjalanan waktu, saya mulai memahami bahwa diri sendiri itu tidaklah penting (well, dalam hal ini saya merubah persepsi dari 'manusia yang paling tidak beruntung' menjadi manusia yang bersyukur karena masih ada orang lain yang lebih menderita). Saya kemudian belajar melihat orang lain, mengamati perilaku, bahasa tubuh dan juga bagaimana mereka bersikap pada sesuatu. Pendeknya saya 'memisahkan diri' dari self centered menjadi seorang yang mengamati orang lain. Ternyata ini sangat membantu merubah gaya traveling menjadi keluar dari "me me me character"  Saya belajar bahwa ini membuat  traveling menjadi tidak sendiri.

Salah satu yang saya kemudian pahami adalah memunculkan keingintahuan terus menerus tentang sesuatu, seseorang atau sebuah kejadian. Saat menunggu kereta di Nong Khai, saya melihat seorang ibu menjual makanan. Bentuknya aneh, dan berbau harum. Dari sini pembicaraan mengalir walau dengan bahasa tarzan. Saya ingin tahu apa didalam paket, bagaimana memasaknya sebelum membeli dan mencoba. Si ibu itu menjadi kawan, memperkaya acara traveling saya. Menghabiskan satu jam bercerita.

Saya sering bertemu sesama backpacker di penginapan atau jalanan atau kendaraan. Merekalah menjadi kawan ngobrol yang asyik, berbagi cerita dan bahkan berbagi masalah pribadi. Tiba-tiba saya seperti bertemu seorang saudara, bukan lagi orang asing di negara yang asing. Dari sini saya memahami bahwa membuka hati pada orang lain adalah cara terampuh membuat rasa sendirian menghilang. Terkadang pula masalah pribadi lebih bisa tersampaikan pada orang yang belum pernah kita temui sebelumnya. Walau begitu saya jarang curhat dengan backpacker, semata-mata karena saya terbiasa jujur sejak semula.

Sering saya dimintai untuk mengajak jalan bersama. Seperti jadi EO (even organizer) atau leader atau apalah namanya. Saya selalu menolak. Bukan karena saya pelit, sok individualis. Tetapi ketika jalan dengan berbanyak dan bertanggung jawab pada keberadaan kawan jalan membuat konsentrasi untuk menyerap perjalanan menjadi berkurang. Dalam hal ini saya mengakui, itulah egois saya sebagai traveler. Saya selalu berpedoman, seorang traveler/backpacker adalah mempunyai tanggung jawab pribadi, mampu bersikap dan mengambil keputusan tanpa seseorang yang menentukannya. Ia harus mandiri, punya daya tahan yang kuat dan satu hal lagi, mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dalam hal ini ada yang disebut 'collective responsibility' atau tanggung jawab bersama. Pemisahan antara pribadi dan bersama ini adalah dijelaskan sejak semula. Saya menghormati apapun keputusan orang lain, tapi saya tidak mau orang lain bergantung pada saya untuk mengambil keputusan. Saya ingin setiap orang menjadi pemimpin dirinya sendiri.

Saya tidak anti pada mass travel ataupun trip yang dilakukan berbanyak. Mungkin memang itu salah satu cara untuk belajar memupuk keberanian, mencari teman dan mungkin berbagi pengalaman. Tapi travel berbanyak bisa jadi merubah karakter me me me tadi menjadi lebih ke human interest disekelilingnya. Mungkin suatu saat ia akan memilih bersendiri, mencari jati diri, membawa pada limit tertentu dan merasakan bahwa hidup lebih berarti jika kita keluar dari ego.






Blog EntryJul 17, '10 9:57 PM
for everyone


The angle was not right. For nearly fifty-five degree, even a brave rock climber wouldn’t dare to recommend kids to scramble up. With eight inches thick of concrete with slightly crust unfinished top, every step felt so excruciating, and numbness for the wary being lapsed.  The width between wall and the edge was only enough for a petite body to pass, not even give spare for wrangling move to dance. Only one person each time, I purged everyone who willing to up or down in same time. You or me first, usually we ended up in awkward situation. There was no hand railing that you can hold for short breath, nor keep you on the pathways. It was almost going to the summit on the massive granite rocks. Futile yet fragile, I was never looked down when I decided to climb to my bedroom.

It was been source of our discomfort conversation once we were bringing up this matter. I was on second year of my civil engineering school, and I know that steps design was wrong. In many aspects: shape, material, degree, height and probably the basic intentions. As the stair was my Dad’s creation, he was unwilling to accept that his design had flaw, many critical flaws.

“I think we’ve need to add some hand hold Dad,” I asked with desperation after nearly tripped on the edge of mid step while carrying books. He reacted at me with question looks. Then with some dignity came from his tone, ”You should be more careful then.”

I mentioned to him that Mum used the stairs when she had to put clothes on washing line, next to my bedroom. It became my job every three days to help Mum hauled buckets filled with wet clothes, scrambling up ten steps in acrobatic move. Or sometimes if that too heavy I just plumped the buckets in every one step to another until the top one. Two three buckets in a day.

Dad built his creation while I was in high school. I’d thought the material was great since the stairs were half open air. When the tropical rain was poring down, the stairs became second drainage system to channel water to the pipe below that connecting alley where the stairs started. But since Dad built extension that expanding far more spaces, lied concrete floor on my old bedroom, added three more rooms, packed it with a massive roof, we were then witnessing our stairs became a central of transit activities between downstairs area which was more public, and the upstairs area which was private, mostly bedrooms for his daughters.

Mum was never protested, but she did silently by groaning and grumbling each time she reached daughter’s bedrooms, to check if we’ve done our homework. I was easily got away, as my university assignments were never allowed me to settle long enough at home.  My two little sisters reported, and Mum secretly told me by how she thought her knees was getting sore and shivering if she climbed that steps. My two sisters were too small to start conversation about this sensitive matter, a subject that regarded as lot more touchy than Dad’s smoking habit.

One day Dad got his measuring tape. He did few things, there and there. Mum was so exciting, and little sisters suddenly appeared in my bedroom with good news. They said I have to ask Dad to change the stairs design all together. Demolish it and build new one with correct calculation, exactly what I was suggested to him four years ago. I did say that the structure was in danger for user because mathematically incorrect. We fell out since, and Dad remarked with angry voice defended that his stairs was perfect; the stairs was his that I should not involve in any stages. I retreated with knowledge that he probably just put too much himself. Since we never brought up this matter in any circumstances, I thought maybe now Dad had changed his heart and listened the voices from nowhere.

Next day a carpenter arrived and did measure the stairs. He put notes on his damp and hideous papers with a pencil and made basic adding. I was absorbed by the way he measured the distance with his palm from little finger to his thumb. He counted in one two three to twenty then fifty to seventy hands. He armed with wooden stick, in a meter length to count the height. It was not an easy task for him, as he needed someone to check the gap between ceiling and upstairs floor. 

Dad was nowhere around, as he was still at work. Mum and I, two women responsible to let a carpenter doing mathematics job, were watching that he would not do it correctly. Mum and Dad were studying accounting at university when they met. Dad was working for Government bank, as credit controller, while Mum was stay home, an agreement they’ve reached since they were married after graduation. For Mum, math was her second nature, although she applied in many elements of household: money management, controlling budget of construction first house, saving money, emergency fund, applying credits. She was more practical in a way math supposed to be.

When Dad arrived home, my duty was to ask about his next project. “Will we see a new stairs Dad?” I was hardly used word that sounded harsh or judgmental. This is the most argumentative subject for him. To my surprise he said, “No. I have got brand new design. A handrail and the addition to the steps from wood.”

I asked him to explain his design again because it sounded odd for me. He dragged me to the stairs and pointed the concrete steps. “So I will add thirteen inches wide of these steps, all along from bottom to top, with handrail attached on it. The position of wooden step will fill the gap between concrete steps thus it will reduce the distance in every step.“                 

Dad then showed me how to going up and down. Put his left foot on imaginary wooden structure, then right foot on the concrete step. And so on, “Until you will reach the top,” he said.

Still, I did not grasp the idea. There will be two different set of materials, different set of number of steps emerged in a single structure.  The main problem here was not being solved. The stair was too step to climb, and too scary to walk down. The case was not the number of steps but the basic structure needed to redesign. Dad argued that if we tear down the old structure, build new one, it will cost maybe as twice as much than wood addition. We fell out again, and Mum was never being able put us in consilience.

I retreated, and say no more.

II

Mum called me yesterday that the stair was finished. I could sense her relief, by how she described the new stairs. “I changed the landing little bit, on the third step so it will give more room for turning if we walk down. The angle just right and I am not afraid going up and down again. You were right that the labor had to knock down top of wall on the bathroom for twelve inches.  He said it would not disrupt the beam or the foundation. Don’t worry; the wall was one from the original structure.”

Two years after Dad passed away, I put his business on ultimate ending. My husband and I were putting effort to measure and draw in paper, a simple design that could be understood by common workers in Central Java, Indonesia. I described the chronological level for demolition works, and problems that may obstruct the whole process. It was four weeks construction under Mum’s supervision while I was remotely tracking the progress by calling every once in a week. I surprised by how quick it was being done.

I thought about Dad recently and pray for him in solemn request to God, and the decision to rebuild his stair probably because I want to prove that I am able to do it. We never settled, as he stated that I should not involve in any stages. Now, I am just want to say that helping him to fix his problem, was my kind of love, a love that probably hard to define, or profess. I thought he would smile at me in heaven, feeling proud with our collaboration.(**)


PS: It is written as a memoir about difficult relationship between daughter and father, in a good way.





Blog EntryJul 9, '10 6:39 PM
for everyone

Bulan ini saya ikutan workshop literatur, yakni bagaimana menulis dan mengritik menjadi lebih struktural, terarah dan membangun. Materinya kebanyakan adalah cerita pendek, atau hanya bagian tertentu. Biasanya seperti esai panjang. Untuk yang bukan terlahir sebagai cerpenista ataupun novelista, ini agak berat karena kebanyakan materi adalah tulisan-tulisan karya literatur dunia (in english off course seperti Jhumpa Lahiri ataupun Marilynne Robinson). Berat dalam arti sesungguhnya. Saya sempat ngga menyelesaikan sebuah esai karena muatan philosphy-nya terkadang tidak bisa diterima otak mandul saya.

Kritik terdengar keras di telinga kita, bagi orang Timur. Mungkin alergi malahan. Tetapi bagi saya, kritik adalah sebuah proses berpikir dari si pembaca. Kritik yang baik akan menunjukkan kualitas si pengkritik. Begitu pula sebaliknya. Vice versa.

Saya juga diwajibkan mengkritik karya kawan workshop saya. Tentu saja dengan diberikan guidelines bagaimana membuat kritik lebih menarik baik dari segi si pengkritik dan yang dikritik. Salah satu aspek yang ditekankan adalah kritik harus diucapkan dengan bahasa yang sopan, merujuk langsung. Dalam terjemahan 'direct' artinya lebih kepada to the point ketimbang langsung menjurus pada sasaran ie menghujam kasar. Bahasa kritik terkadang menjadi hambatan utama dan sering disalah artikan. Tak jarang saya menyaksikan orang yang dikritik menjadi marah, 'hanya' karena dibilang jujur apa adanya, yang tentu saja ini dari perspektif orang lain.

Bahasa kritik yang baik juga menunjukkan karakter dan tingkatan kedewasaan si pengkritik. Apakah ia hanya mengutip saja, mengembangkan kritik dengan manis atau mungkin menjalar hingga kemana-mana. Saya sering membaca kritik yang cerdas, lucu tapi tidak offensif. Tone atau nada atau keseiramaan yang terbaca juga dipertimbangkan. Pemilihan kata (diksi) sangat dominan. Kritik akan tersampai dengan baik jika semua aspek itu terwakilkan.

Ini juga merujuk aspek kritik yang lain, yaitu fokus. Dengan memberi perhatian pada 'content' atau isi (what) ketimbang siapa (who) si pemberi kritik. Terkadang si Fulan bisa menghasilkan kritik dengan lebih cerdas dan terarah. Padahal ia bukanlah seorang professor. Tak jarang saya menyaksikan pengarang terkenal yang mencak2 karena tulisannya dikritik tajam. Dengan memperhatikan isi dan kandungan kritik akan membuat kesan  bahwa kritik sebagai 'personal attack' berkurang.

Disini faktor kedewasaan dan penerimaan (saya menyebutnya sisi demokrasian) bermain kencang. Siapa yang bisa menerima kritik setajam apapun dengan lapang dada adalah orang yang paling dewasa dan paling demokratis. Saya pernah dicurhati seorang pengarang yang membilang bukunya dikasih review jelek. Well, saya bilang ucapkanlah terimakasih pada si pengkritik karena ia punya waktu dan duit untuk membaca bukunya.

Disisi lain, jika kita menerima kritik hal yang pantas dilakukan adalah, terima saja. Baik buruk, kasar halus, marah memuji, menghina memuja adalah proses dinamika manusia. Well, percaya atau tidak kawan terbaik saya adalah orang yang paling keras mengkritik. Cinta terkadang diwujudkan dengan peduli. Bagi saya kritik menunjukkan kita masih peduli.


ps: foto adalah grafiti karya artis jalanan terkenal Bankys di China Town San Francisco. Judulnya: Peaceful Heart.







Blog EntryJun 21, '10 8:05 PM
for everyone






Judul Buku: Selimut Debu

Penulis: Agustinus Wibowo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xii + 461 halaman

Cetakan: I, Januari 2010

ISBN: 978-979-22-5285-9

 





 

Kedai teh adalah universitas kehidupan.  (halaman 184)

 

 



Apa yang membuat seorang backpacker mengunjungi negara yang belum diulas oleh Lonely Planet –kitab suci pengelana independen?  Bagi Agustinus Wibowo mungkin terasa klise. Ia melihat Afghanistan sebagai seorang perempuan  nan cantik di balik burqa. Tertutup. Misterius.  Penuh selidik dan prasangka.  Hanya sepasang mata biru yang terlihat. Ia memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat.  Tak diduga, ia jatuh cinta pada negeri bercadar itu.

 

Buku Selimut Debu ini hadir buah dari perjalanannya mengunjungi Afghanistan di tahun 2006. Kunjungan kedua setelah sempat bersinggungan dengan sisa-sisa Taliban  di tahun 2003.  Ia mengandalkan buku lusuh An Historical Guide To Afghanistan tulisan Nancy Dupree terbitan tahun 1970-an.  Meski hanya berbekal buku dan uang seadanya,  namun semangat menelusuri sudut negeri itu membara sejak pertemuan dengan seorang pencari karpet di kedai teh di  wilayah Bamiyan.

 

Ada semangat eksplorasi yang ingin dibawa Agustinus untuk pembaca Selimut Debu. Sejarah Afghanistan bagi kita mungkin diawali ketika Rusia menginvasi negeri ini, melahirkan gerakan Mujahiddin. Hingga sekarang pun rentas waktu Afghanistan adalah misteri.  Bukankah di sana perempuan adalah kelas kedua, atau bukankah harga sebuah nyawa tak lebih mahal dari seekor domba.  Negeri porak-poranda. Negeri perang. Berbahaya, dan makin tak bersahabat jika tak mampu menggaulinya.

 

Mengurai demografi negeri ini, melacak hingga sejauh mungkin lorong waktu negeri khaak (debu) hingga era kerajaan dan dinasti Mullah. Ada etnis Tajik, Hazara, Farsiwan,  Pasthun yang menciptakan mozaik indah Afghanistan. Kecantikannya tertafsir sebagai sebuah godaan untuk dijarah, diambil alih, dirombak dan bahkan dikangkangi oleh banyak kepentingan: Romawi, Alexander Agung, Rusia, Amerika. Namun, Agustinus tetap mengagumi kegigihan dan harga diri bangsa Afghan yang diwakili berbagai etnis.

 

“Menjadi ‘Afghan’ berarti menjadi berani, tahan banting dan pantang mundur. Itulah benang merah yang menyatukan berbagai suku bangsa yang mendiami Afganistan”. (halaman 330)

 

Meskipun perjalanan di buku ini adalah tentang negeri Afghanistan, ternyata Agustinus berusaha melihat dari perspektif luar. Membandingkannya dengan Tajikistan yang sempat dikunjungi dalam perjalanan menuju koridor Wakhan ataupun saat menyeberang hingga ke Iran. Sebuah kejutan budaya yang diakui menjatuhkan kepercayaan dirinya sebagai Afghan.

 

Identitas adalah sebuah deretan pertanyaan tanpa henti. Anda muslim? Anda Pasthun? Anda Ismaili, Sunni, Syiah?  Ini menandakan bagaimana negeri ini  terbangun dari  berbagai rumpun. Negeri yang dulunya bagian dari peradaban tinggi tiga ribu tahun yang silam. Jauh sebelum Kristus, agama kuno Yunani, Romawi, Zoroaster, Buddha, Islam dan Komunis.

 

Toh Agustinus berani menyelipkan ironi dan absurditas di tengah perjalanannya. Tentang membanjirnya produk barat seperti Coca Cola misalnya, atau betapa ia tak bisa memahami saat melihat semua lelaki di  samovar -warung teh terduduk ta’zim menonton sinetron Hindustan. Ia juga membenturkan pergulatan perempuan di Afghanistan untuk mendapatkan tempat di ruang publik, mempertanyakan efektifitas bantuan asing untuk penduduk pasca perang* dan juga esensi  konsep kebangsaan  ‘satu bangsa satu bahasa’ di tengah keanekaragaman budaya. 

 

Buku Selimut Debu memang memaparkan perjalanan panjang penuh suka duka melewati Pass di pegunungan bersalju, desa-desa dengan sistem transportasi seadanya.  Menerobos titik utara di Kandahar, melintasi koridor Wakhan, hingga kembali ke Bamiyan dan bersinggungan dengan ibukota Kabul.  Agustinus memutuskan untuk mengenal lebih  dalam negeri  ini melalui bahasa. Ia dikaruniai talenta penguasaan bahasa, termasuk bahasa Farsi, ataupun Dari - lingua franca  bahasa Persia yang dipakai secara luas di daratan Asia Tengah. Mengerti bahasa membuat karakter-karakter yang ditemuinya adalah mewakili pemikiran dan konsep mereka.

 

Agustinus tidak berusaha membuat sebuah penilaian absolut terhadap karakter karena agama, budaya, opini ataupun keberpihakan politik. Ia memilih mengabsorsi, mengolah dan memahami. Sebuah proses panjang dari seorang backpacker menjadi eksplorer hingga seperti layaknya seorang observer.  Baginya, seorang pengelana adalah merekam, mencatat, menguntai kisah negeri Afghanistan. Tentang manusia di dalamnya, tentang budaya yang membentuknya dan pergulatan politik tanpa henti.

 

Buku ini mengingatkan kisah serupa dari mantan diplomat Inggris, Rory Stewart –The Places in Between.  Berbeda dengan Stewart yang sudah mempunyai prejudice, Agustinus memilih melihat Afghanistan seperti dengan kamera. Ada keindahan tersembunyi. Ada momen yang tak bisa dilihat dengan telanjang. Melihat negeri ini adalah melihat dengan hati. Termasuk isu-isu kontroversial seperti ladang opium dan bachabazi –hubungan seksualitas sesama lelaki. Seperti halnya  burqa, bachabazi adalah masalah budaya dan pergulatan kekuatan antara satu gender dengan subordinatnya.

 

Bagi penikmat setia blog dan hasil fotographinya di http://avgustin.net, kisah Afghanistan ini adalah detail perjalanan yang sebelumnya muncul dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Nampaknya ini dipilih untuk memberikan napas baru bagi para pembaca serial Titik Nol di harian Kompas yang mengisahkan perjalanannya menyusuri negeri-negeri bekas Uni Soviet, hingga India dan Nepal. Ada perbedaan yang jelas antara tiga media ini dengan buku.

 

Selimut Debu terasa lambat untuk pembaca yang terbiasa dengan travel writing hedonis. Selera humor yang terasa reflektif nyaris kering, namun sarat dengan simbolik dan makna. Sebuah gaya penulisan yang mengingatkan pada penulis travel literature seperti Paul Theroux. Nonfiksi tetapi mewakili romans sebuah novela; yang direfleksikannya dengan tidak mencantumkan daftar isi.

 

Buku ini bukan saja bertutur mendalam tentang sebuah negeri, tetapi pergumulan dengan orang-orang yang ditemuinya. Sudah saatnya Indonesia menghasilkan buku traveling seperti ini.



Oleh Ambar Briastuti.

 

 


* ia pernah menjadi sukarelawan gempa di Kashmir Pakistan, bekerja untuk beberapa projek PBB seperti UNDP di bidang kesamaan gender (gender equality).



Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi?

Bukahkah hadiah adalah wujud perhatian dan cinta pada teman, kekasih, suami, istri, orangtua? Really? Memanifestasikan hadiah dari perjalanan kita mengandung banyak unsur. Oleh-oleh, souvenirs dan buah tangan bisa saja diwujudkan benda, bisa dimakan ataupun tidak, bisa disimpan atau tidak.

Kawan saya pernah curhat. Ia dihadiahi kawannya sebuah kain cantik ketika kembali dari India. Tapi begitu hubungan mereka berubah, sang pemberi hadiah serta merta meminta kain itu kembali. Dalam perspektif saya, esensi 'memberi' adalah ikhlas. Entah barang entah tenaga entah uang. Jadi benda yang telah kita berikan pada seseorang sebagai oleh-oleh adalah ikhlas untuknya. Tak usah disesali ketika hubungan itu berubah. Toh mungkin memang hanya sebatas itu penghargaan orang lain terhadap saya. Toh pada saat itu saya memang mencintainya.

Disisi lain, sebagai penyuka jalan saya tidak pernah meminta oleh-oleh tetapi tidak menolak jika ditawari yang berarti bersifat tidak mengikat. Ini karena saya yakin mereka cukup sibuk dengan perjalanannya dan mungkin tidak akan sempat membelikan 'pesanan'. Sakit hati? tidak juga. Karena itu tadi, saya tidak meminta.

Tidak meminta juga mempunyai sisi lain, yakni kita jadi tidak berharap. Itu juga tidak merubah hubungan saya dengan teman yang sengaja/tidak,  ternyata lupa sama sekali membawakan oleh-oleh. Toh benda hanyalah benda, sedangkan bukti persahabatan tidak harus diwujudkan barang. Dalam hal ini saya menghargai persahabatan lebih tinggi dari sekedar oleh-oleh.

Saya kemudian mulai membeli untuk diri sendiri, sebagai pengingat atau kenangan mengunjungi sebuah tempat. Kaos, topi, pin, magnet kulkas, gantungan kunci. You've named it! Tapi pada suatu hari saya tertegun ketika seseorang meminta untuk dibelikan satu gantungan kunci. Sebuah benda tentang negara yang tidak ia kunjungi, tidak ia alami dan hanya ia mimpikan. Saya jadi jatuh kasihan. Saya ternyata menawarkan impian kosong. Dari situlah saya berhenti membeli oleh2 'pesanan'.

Kosentrasi saya berubah pada benda untuk orang lain menjadi benda untuk mengingatkan pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi. Yang saya cari pun adalah benda yang unik, yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Bukannya gantungan kunci Made in China.

Barang itu sepele saja, mungkin sangat tidak berharga jika dibawa. Topi pandan misalnya. Saya peroleh di Nias yang ternyata diberi tandatangan dan nama kawan yang saya temui disana. Harganya hanya 5ribu, buatan tangan seorang ibu yang saya kenal ketika mengajar anak-anak disana. Di Nepal saya membeli bel (klenthengan) yang tergantung di leher binatang yak di sebuah warung kecil penjual teh dalam perjalanan trek ke Kala Pattar. Bunyi bel itu mengingatkan saya pada perjalanan panjang melewati pegunungan berdebu dan bersalju. Irama dengungnya masih terngiang ketika saya kembali pulang. Ada moment yang saya ingin simpan di ingatan dan kehidupan sekarang.

***

Tidak ada konsistensi barang apa yang saya simpan. Terkadang kain, di lain waktu mungkin hanya sebuah mainan anak-anak. Tetapi setiap belahan benda itu memberikan kenangan dari bagian perjalanan saya.

Ada benda yang membuat saya teringat tentang bayi dan anak perempuan di pegunungan Sapa, Vietnam. Kisah mereka sangat melekat karena anak-anak perempuan disana menikah diusia dini. Tak jarang mereka menggendong bayi padahal masih berusia 14tahun. Karena itu topi bayi adalah simbol kenangan yang paling berkesan disana. Juga sebuah dompet anyaman dari serat pohon di Serawak. Saya peroleh ketika selesai trek di Mulu menuju suku Dayak. Polanya sederhana, dengan warna seadanya. Tapi kenangan tentang pohon tropis Kalimantan yang makin tipis membuat saya tergerak memperolehnya.

Saya berusaha agar souvenirs itu adalah hasil kerajinan tangan, bukan produksi massal. Terutama barang itu dihasilkan oleh kalangan/suku yang merupakan bentukan seni mereka, cara berekpresi dengan sebuah benda. Guratan di batang, kain dari bahan alami, atau manik-manik dari biji-bijian. Selain itu, membeli langsung dari mereka sangat disarankan. Bukan melalui toko atau tangan ketiga keempat yang mungkin membuat harga melambung tinggi karena mengambil fees perantara. Terkadang usaha membuat oleh2 ini adalah satu2nya yang membuat suku/budaya itu bertahan.

Menghargai buatan tangan entah itu benda yang bisa disimpan atau tidak, adalah proses kita menghormati tempat yang kita pernah kunjungi, orang yang kita temui dan pengalaman yang kita bagi dengan mereka. Sekali lagi cinta pada orang lain bisa kita wujudkan dari benda itu. Terdengar egois, tapi mungkin tidak jika kita melihat dari kacamata yang lebih lebar.

Jadi cintakah kita pada benda, orang lain atau tempat kita berkunjung sebagai manifestasi semata?

Buat saya, itu lebih dari sekedar cinta.




Ini hanya sekedar renungan setelah koleksi ini diminta oleh sebuah majalah di Indonesia Female edisi bulan Juni 2010:

No 1. Anyaman dari serat pohon. Diperoleh di Serawak Malaysia
No 2. Topi bayi dari anyaman dan manik dari Sapa, Vietnam
No 3. Boomerang kayu dari suku Wiradjuri, Australia
No 4. Dream Catcher-Penangkap Mimpi untuk digantung di jendela atau tempat tidur dari suku Indian di Canada. Diperoleh ketika mempunyai pengalaman menyusuri jalur suku Indian pencari ikan di danau beku Banff.
No 5. Kain tenun sutra dari Hanoi, Vietnam. Mengingatkan akan seni yang tinggi di kota ini dari kemampuan membuat lukisan tiruan maestro barat, hingga penghargaaan akan indahnya bunga mawar.
No 6. Kain tenun dari Vientiane, Laos. Melihatnya begitu cantik dikenakan perempuan Laos yang masih lugu dan penuh respek akan budaya mereka sendiri tanpa terpengaruh dari negara tetangganya yang mulai merasuki.





Climb if you will, but remember that courage and strength
are naught without prudence, and that a momentary
negligence may destroy the happiness of a lifetime.
Do nothing in haste; look well to each step; and
from the beginning think what may be the end.

(Edward Whymper, Scrambles Amongs the Alps)





Judul Film : Northwand (2008)
Sutradara: Phillip Stölzl
Rilis pertama di Jerman: 23 Oktober 2008, Inggris 12 Desember 2008, USA 11 Juni 2009
Award: Best Cinematography, Best Sound tahun 2009 di Jerman



Mungkin benar sebuah pepatah bahwa belajar dari kesalahan adalah guru yang terbaik. Film North Face (2008) atau dalam bahasa Jerman Northwand adalah salah satu contohnya. Film ini tidak menuturkan keberhasilan tim atau kebanggaan nasional, tetapi justru tentang cinta. Sebuah ungkapan cinta yang lebih luas, tak hanya cinta pada seorang wanita tetapi juga cinta pada negara.

Film North Face adalah film yang mengisahkan upaya pendaki Eropa untuk menaklukan dinding Utara Eiger di pegunungan Alpen yang berdiri gagah di Swiss. Walau sebagian besar cerita tentang pendakian adalah kisah nyata, tetapi ada sisi background yang merupakan fiksi untuk sekedar memperkaya dan memberikan ilustrasi yang lebih luas. Cerita utama diangkat dari pendakian duo Jerman bernama Toni Kurtz dan Andi Hinterstoisser yang berusaha menaklukan dinding perkasa ini di tahun 1936. Kala itu Eropa tengah dalam genggaman Perang Dunia I dengan Hitler dan Nazi sebagai pengendali kuasa.

Baik Andi dan Toni adalah tentara Jerman, tetapi dikisahkan di film ini bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu menyukai ideologi Nazi. Kesukaan akan panjat dinding sejak muda mempertemukan keduanya dan akhirnya memutuskan keluar dari dinas militer untuk mencapai tujuannya. Kisah kedua pendaki ini makin kompleks ketika seorang jurnalis perempuan, Luise -kawan mendaki mereka yang ditugasi untuk meliput upaya duo ini. Andi sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk menaklukan Eiger karena kejadian malapetaka dua pendaki terbaik Jerman setahun sebelumya.

Kisah film ini terbentang dalam waktu yang pendek saja, yakni hanya 5 hari. Awal mendaki mereka ternyata diikuti oleh dua orang dari Austria, Willy Angerer dan Edi Rainer. Pendakian mereka bisa dilihat dengan mata telanjang dari penginapan kota Grindelwald di Bern Swiss, membuat upaya keempat orang ini menjadi tontonan massa. Eiger juga bisa dicapai dengan jalur kereta api yang dibangun oleh pemerintah Jerman melalui terowongan gunung. Ditengah dinding Eiger terdapat sebuah celah darurat yang sengaja dibuat untuk menghubungkan jalur kereta dengan dinding North Face sebagai salah satu akses jika melakukan rescue.

Kisah keempat pemanjat tebing terbaik Eropa ini sangat dramatis, bukan saja karena liku pendakian tetapi juga adalah upaya untuk menyelamatkan mereka. Persahabatan dua kawan, saling kompetisi antara pendaki, hingga keputusan yang harus diambil oleh tiap individu. Deretan kesalahan menjadikan pendakian yang sepertinya bakal berhasil menjadi sebuah malapetaka yang menjadi legenda di kalangan pemanjat tebing dunia.

Hari pertama mereka diisi dengan pendakian yang cepat dan mengesankan. Andi (atau dalam kisah nyata adalah Andreas Hinterstoisser) berhasil melakukan simpangan rute baru. Sayangnya begitu keempat pendaki melewati traverse ini, baik Andi dan Toni memutuskan untuk tidak meninggalkan tali, berasumsi bahwa mereka tidak akan melewati rute ini kembali. Sebuah keputusan yang paling fundamental dan berpenaruh pada 4 hari kedepan. Pada malamnya mereka menghabiskan dengan mendirikan bivouac ketika cuaca berubah menjadi buruk. Pagi berikutnya bencana mulai datang ketika hempasan batu menimpa tim. Salah seorang dari tim Austria terkena batu dan terluka di kepala. Gerakan tim makin lambat dan mereka kemudian memutuskan untuk turun, sembari berusaha menyelamatkan yang terluka.

Disinilah kemudian situasi makin mencekam ketika mereka berusaha menelusuri jalur kembali. Saat itu cuaca yang buruk membuat mereka bergerak berhati-hati. Pada sore hari, ketika penjaga lorong darurat memanggil mereka, Toni (yang dianggap sebagai leader) berteriak bahwa tim dalam kondisi baik-baik saja. Menurut beberapa pendapat pemanjat tebing dunia, ini karena Toni menggunakan egonya sebagai pendaki yang tidak mau memanggil tim rescue untuk menolong timnya. Jikalau saat itu Toni mau mengakui bahwa kondisi timnya dalam keadaan lemah, penjaga lorong mungkin masih mampu untuk mengorganisir tim penolong.



Malam itu tim harus menghabiskan malam jahanam diterpa badai dingin yang luar biasa. Dua anggota dari Austria kemudian tewas satu persatu. Andi dan Toni berusaha bertahan dan mulai turun. Andi yang menghabiskan waktu 5 jam untuk menelusuri traverse tanpa membawa hasil mengalami penurunan stamina. Dalam satu titik, tinggalah Toni yang tergantung di dinding.


Kisah mereka sangat mencekam, memilukan dan terkadang membuat miris jika belum terbiasa dengan film mountaineering. Dalam beberapa hal, film ini mengingatkan saya pada Touching The Void, kisah survival Joe Simpson di Siula Grande. Baik Toni dan Joe keduanya sama-sama tergantung tali di dinding. Joe berakhir di crevasses atau gua es karena tali dipotong oleh partnernya Simon, sedangkan Toni harus berusaha sendiri untuk menyambung tali yang diberikan tim rescue.

Walau ending keduanya berbeda, tetapi kisah yang pararel ini bukan suatu yang kebetulan. Ternyata Joe Simpson-pun mengakui bahwa kisah Toni Kurz ini adalah inspirasi terbesarnya akan pendakian gunung. Bahkan Joe menulis kisah Toni ini dalam bukunya berjudul "Beckoning Silence" yang bertutur tentang upaya mendaki North Face pasca bencana yang nyaris menewaskannya.

Walaupun film ini berbahasa Jerman tetapi penerjemahan cukup bagus dalam bahasa Inggris. Musik yang dramatis, dan cinematography luar biasa dengan mengambil setting beneran di North Face membuat para aktor bermain dengan begitu menyakinkan. Karakter Toni yang kuat dan sentimentil diperankan luar biasa oleh Benno Fürmann. Dan pemeran Luise oleh Johanna Wokalek pun tidak tampil sekedarnya. Bahkan lewat sisi pandang dialah kisah Toni Kurz dipaparkan dengan sangat mengalir.

Film North Face mungkin berakhir tragis, tetapi banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah mereka. Buat pendaki dan pemanjat untuk mempertanyakan apa yang menjadi landasan mereka melakukan kegiatan berbahaya ini. Kecintaan pada olahraga ini, keinginan untuk termasyhur, atau sebuah bentuk cinta sederhana untuk dipersembahkan pada orang terkasih atau negara tempat kita mengabdi.

Dalam sejarah dinding Eiger Utara akhirnya ditaklukan oleh tim Jerman-Austria dua tahun kemudian yakni 1938. Salah seorang diantaranya adalah Heinrich Harrer yang kemudian terkenal dengan kisahnya di Seven Years in Tibet (1997 film yang sama dengan bintang Brad Pitt). Harrer menuliskan kisah penaklukan Eiger ini dalam buku yang disebutnya White Spider terbit pertama 1959, mengambil nama rute yang diambil timnya. Bila belum puas dengan film setengah fiksi North Face ini, mungkin bisa dilengkapi dengan beberapa tambahan dibawah ini.



Tautan lebih lanjut:

Film dokumenter Beckoning Silence (2007) dari buku Joe Simpson bisa dilihat
8 seri di Youtube. Seri 1 disini
Buku Beckoning Silence di Amazon
Buku The White Spider di Amazon



Blog EntryMay 24, '10 6:42 PM
for everyone



Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah menghitung."

Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang backpacker?

Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal. Saya pernah bertanya  pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama teman. Saya cuman ngikut ajah."

Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer? Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau memahami kearifan budaya Baduy?

Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian.

Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam ke destinasi lain.

***

Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil. Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus.

Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung.

Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji, uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling itu sendiri.

Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati pertunjukkan.

Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu. Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan pribadi.  Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai uang.

Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu.



Photo: burning paper money at Chinese New Year's Eve on the street of Hanoi.




Blog EntryMay 17, '10 12:11 AM
for everyone

Sejak kecil saya selalu menyukai bintang. Impian saya adalah bisa melakukan 'space adventure' gara-gara keseringan nonton Battlestar Galactica atau Star Wars ketika SMP. Ah ya tentu filmnya masih hitam putih dan disiarkan TVRI. Games yang saya mainkan pertama adalah Spave Invaders dengan Atari. Entah saya pinjam siapa, tetapi games ini jadi candu yang memaksa saya makin berimajinasi tentang bintang, planet, matahari, galaksi, komet dan tentu saja pesawat antariksa.

Ketika SMA karena penat belajar, saya sering tidur terlentang di atap rumah tengah malam sembari menatap bintang.  Mencoba mencari bintang jatuh atau mengenali gugusan galaksi. Saya selalu bertanya, "Apakah hanya manusia yang ada di planet bumi? Adakah bentuk kehidupan lain seperti di film teve itu." Ada satu fundamental pertanyaan yang selalu memenuhi kepala: apakah Tuhan itu ada dilangit sana, diantara bintang dan tersenyum melihat saya. (Kalau ada yang heran kenapa saya berpikir begitu, anggap saja ini khayalan anak-anak. Saya melihat orang berdoa sembari melihat atas sana, sepertinya Tuhan ada di langit).

Saya dibesarkan dalam keluarga sekuler, bukan agamis. Ibuk disekolahkan di sekolah Katolik ketika muda, namun belajar ngaji sejak kanak-kanak. Bapak bahkan tidak bisa membaca Al Quran dan hanya menghafal surah-surah yang dikenalnya. Saya tidak mengecap sekolah Arab atau Iqra. Tidak ada darah priyayi Muhammadiyah ataupun Nahdatul Ulama. Saya kesulitan baca Quran sebagaimana saya kesulitan membaca latin. (Saya mempunyai kesulitan belajar ketika kecil yang nyaris membuat saya turun kelas). Jadi konsep Tuhan adalah sesuatu yang tidak terlalu akrab. Saya tidak tahu Beliau dan hanya membayangkan kekuatanNya karena berhasil menciptakan alam semesta. Termasuk bintang tentusaja.

Saya kemudian tahu bahwa ilmu bintang adalah ilmu yang dekat dengan agama yang diwariskan ke saya, Islam. Kenapa bulan sabit dan bintang menjadi simbol diatas masjid. Kenapa waktu shalat ditentukan karena pergerakan matahari. Kenapa waktu awal dan akhir puasa diumumkan dan selalu berbeda tiap tahunnya. Jadi kedekatan agama dan bintang (atau pergerakan bumi, bulan dan matahari) adalah sesuatu yang tidak asing. Bukankah Isa Almasih atau Yesus Kristus dilahirkan ketika bintang sangat bercahaya di langit sana, yang kemudian disebut sebagai Star of Betlehem?

Itulah kenapa saya selalu bergairah jika berkunjung planetarium. Kenangan masa kecil di Planetarium Jakarta tidaklah begitu mengesankan. Saya tertidur di bangku, karena ruangan yang gelap dan berAC. Ini karena studi-tur menempatkan planetarium sebagai bagian terakhir dari marathon keliling lokasi wisata ibukota. Saya akhirnya berkunjung lagi ke Griffith Observatory di Los Angeles. Walaupun ada planetarium, tetapi Griffith adalah pengamatan aktif para astronom. Saat disana saya luar biasa senang berhasil mengintip Planet Jupiter dengan cincinnya yang indah. Planet adalah wujud bintang juga. melihatnya didepan mata sangat berbeda jika melihat dari atap rumah. Sebuah titik nan redup menjadi sebuah wujud yang gamblang.

Beberapa tahun lalu saya melihat sebuah photo yang membuat pencarian bintang menjadi luar biasa. Kosmologi saya melebar, tidak hanya Tata Surya dan Galaksi Bima Sakti. Jika satu titik bisa terdapat ribuan galaksi, maka berapa jumlah semua bintang? Jumlah atau angka yang manusia seperti saya tidak bisa membayangkannya. Tuhan pastilah bekerja dengan sangat keras.

Hari Minggu saya mengunjungi Lick Observatory di Mt. Hamilton, tak jauh dari rumah. Saya selalu bisa melihat bulatan putih dome di kejauhan, tetapi baru kali mencoba melihat dari dekat. Teleskop Lick telah ada sejak 1887 dengan besar diameter 36inci teleskop refraktor, yaitu memperbesar objek. Tidak mengecewakan karena saya bisa melihat dari dekat alat mengintip bintang.

Setiap kali kembali dari planetarium saya selalu bertanya. Apa sih yang membuat kita mencari Tuhan di langit? Mungkin memang kita selalu membayangkan bahwa Tuhan ada disana dan selalu tersenyum melihat manusia. Bukankah kita selalu mencari titik tertinggi, terjauh dan tersulit yang bisa kita bayangkan sebagai tempat bersemayam sang Pencipta? Saya percaya, Tuhan ada dimana-mana.



Mungkin suatu saat saya bisa menyaksikan ini.

TMT Overview from Thirty Meter Telescope on Vimeo.







 

Blog EntryApr 24, '10 10:11 PM
for everyone



Seorang reporter bertanya, "Pernah datang ke satu tempat selama lebih dari sekali?" Saya menjawab jarang. Ini tiba-tiba mengingatkan jika jalan backpacking, hampir tidak pernah kembali ke tempat tadi. Alasan sentimentil? No. Karena saya ingin sesuatu yang baru, unknown, dinamis dan menjaga sebuah enerji backpacking yang utama yakni keingin tahuan.

Entah berapa kali saya ke London karena berbagai urusan, yang kebanyakan dokumen (visa & paspor). Tapi ingatan saya selalu kembali ketika pertama kali jalan ke London. Naik bis 2 jam dari Stratford, sendirian dengan peta ditangan dan misi yang sukses. Tidak ada yang mengajari saya memilih kereta, atau memberi tahu arah jalan seperti milis/fb/mp. Semua adalah petualangan. Exciting dan membuka mata. Sejalan dengan berkali-kali kunjungan, semakin dalam dan hitam wajah sebuah kota. Membuat London menjadi 'biasa' dan lepaslah keingin tahuan. (Atau saya merasa sok tahu dan menepuk dada? mungkin).

Bagi orang nomaden seperti saya, sisi 'attachments' terhadap rumah, tempat ataupun tanah air menjadi semu. Saya tidak pernah homesick walaupun tidak pulkam selama 5 tahun.  Tetapi bukan berarti saya tidak mau mengenal tempat. Seorang kawan di Singapura membilang, walau saya cuma tinggal 2tahun di negeri kecil itu tapi mungkin saya lebih paham dari orang yang tinggal disana 10 tahun.

Ironis? mungkin.

Travelling dan tinggal di kota tsb memang beda kondisi. Jika travel, kita cenderung mempunyai gambaran idealisme dan ekpektasi yang tinggi. Terlebih tempat itu 'dijual' sebagai wisata karena keindahan, eksotis dan tentu saja menawarkan janji kemudahan. Kunjungan bisa jadi hanya sekilas, sebentar saja untuk memuaskan keingin tahuan.

Salah satu strategi travelling saya adalah mencari sesuatu yang baru, sama sekali baru. Entah itu faktor bahasa, budaya dan juga lingkungan. Tantangannya makin besar jika semua unsur itu dipenuhi misteri. Belum pernah ada yang bikin catper kesana, jalanan jelek, ngga ada di Lonely Planet etc. Tetapi pilihan itu tentu didasarkan pada 'ekpektasi'.  Jika ada seorang kawan trek ke A, saya memilih ke B. Bukan karena ingin beda, tetapi karena ia sudah membagikan cerita dan menjadikan tempat itu tidak lagi misteri. Curiosity saya menghilang atau berkurang.

Seorang kawan bercerita bahwa ia akan kembali berlibur. Ia selalu ke tempat itu dari tahun ke tahun, tinggal di hotel yang sama, mengunjungi tempat yang sama. Itu berlangsung lebih dari 5 tahun. Ia menjawab, bahwa ikatan emosional terhadap tempat itu begitu kuat hingga ia selalu memutuskan kembali. Tapi saya kemudian curiga, bahwa pilihannya didasarkan karena ketidak mauannya untuk melampaui masa 'pengenalan' yang cenderung menyebalkan dan memakan enerji.

Untuk mengenali tempat baru, selalu ada perjuangan. Tersesat, ditipu, salah arah dan juga salah paham. Masa itu bisa dilewati sebentar dan lama bergantung pada individu masing-masing. Apakah ia cukup peka dengan perbedaan budaya, apakah ia cepat belajar bahasa daerah, dan juga apakah ia bersedia menerima proses itu dengan lapang dada. Individu yang terlanjur menikmati masa pahit ini dan menemukan kemudahan menjadi sebuah kenyamanan. Ia tidak mau keluar dari 'comfort zone' tadi dan memilih tempat yang pernah dikunjungi, dan selalu kembali.

Tetapi bagi saya yang masa penjajakan itu sebagai tantangan, tidak pernah mencapai apa yang disebut 'comfort zone'. Tidak ada tempat yang abadi dan solid. Mungkin karena telanjur melakukan riset mendalam sebelum jalan, membuat saya merasa sudah mengenal tempat itu. Confirmed. That's it.

Personality juga mungkin mempengaruhi. Bagi saya yang aktif,  tinggal di sebuah tempat dalam periode tertentu bisa membunuh. Mandul dan cenderung imun terhadap dinamisme. Karena itu biarpun tinggal di sebuah tempat, saya menjelajahi tempat baru walau mungkin tak jauh dari rumah. Target-pun tidak pernah muluk.  Pasar, sudut ataupun wilayah yang entah. Semua kembali kepada curiosity.

Seorang kawan bercerita bagaimana ia tidak tahu nilai sejarah sebuah tempat walaupun jaraknya hanya sekepalan angin. Saya tidak menuduhnya malas, tetapi hanya ia tak punya semangat keingin tahuan. Sering saya keluar jalan dengan tidak ada titik destinasi di kepala. Hanya mengikuti arah saja dan menemukan sesuatu yang baru dengan menyusun cerita. Sekepalan angin.

Dugaan saya selanjutnya adalah ketidakpastian. Sisi petualangan menawarkan ketidakpastian yang lebih besar. Apakah nanti ada penginapan, apakah transport cuman bis saja etc. Saya sendiri belajar menerima ketidakpastian. Terlebih itu menyangkut fulus dan kapital yang sudah diinvestasikan pada sebuah perjalanan. Saya mencoba lebih lega. Membiarkan ketidakpastian itu membimbing. Ternyata ada nilai kepuasan tersendiri jika mampu menguasai ketidak pastian. Sesuatu yang membuat makin percaya diri, atau keyakinan -assurance bahwa ketidak pastian itu hanyalah sementara. (yang tentu saja ini ilusi manusia karena ketidakpastian itu selalu ada, infinite. Disimbolkan ∞ ).

Ketidakpastian juga memupus ekpektasi. Jika sudah menempatkan ekpektasi yang tinggi, tak jarang ketidakpastian sedikit saja bisa menghancurkan sebuah perjalanan. Saya ingat kisah seorang kawan yang marah ketika layanan hostel tidak seperti yang diimpikannya. Menjadikan perjalanan makin tak nyaman. Ia pun selalu menyinggung sisi buruk ini menjadikan setitik nila yang merusak susu sebelanga.

Mungkin menerima ketidakpastian dan menadirkan ekpektasi adalah kunci kenihilan saya terhadap sisi emosional tempat. Semua tempat adalah unik. Dan semua tempat mempunyai tantangan.


"Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I'm not sure about the former." -Albert Einstein



Buat yang terdampar di Eropa dan belum bisa terbang ke Asia atau terpaksa transit di bandara sana karena debu vulkanis gunung di Iceland, Lonely Planet memberikan akses gratis City Guide via iPhone dengan Aplikasi yang bisa diunduh dengan iPhone (dengan sangat terpaksa hanya hape jenis ini yang ada aplikasinya, yang lain seperti BB kagak ada).

Ini berlaku hanya sampai Kamis 22 April 2010. Kota-kota yang diberikan akses FREE adalah : Amsterdam, Barcelona, Berlin, Budapest, Copenhagen, Istanbul, London, Moscow, Munich, Paris, Rome, Stockholm dan Vienna. Tiap kota harus diunduh tersendiri melalui aplikasi iTunes. (selain kota tadi, tidak ada akses free alias bebayar).

Berikut prosesnya:

Cara I Melalui Komputer


1. Unduh aplikasi iTunes (free) bisa untuk komputer Mac/Windows
2. Buat akun di iTunes dengan email
3. Menuju App Store>Travel>Lonely Planet Publications Pty Ltd
4. Pilih City Guides kota2 Eropa diatas
5. Klik Free Guide dan unduh
6. Sync (sinkronisasi) dengan iPhone.



Cara II Melalui iPhone





















1. App Store > Search
2. Ketik kata kunci: Lonely Planet XXX (nama kota) City Guides
3. Unduh dengan memasukkan akun  iTunes
4. Have fun!

 


Catatan penting:
  • karena hanya berlaku free hingga Kamis 22 April 2010 sebagai bagian dari kondisi darurat, LP tidak memberikan penjelasan lebih lanjut apakah pengunduh pada masa itu akan dicabut aksesnya setelah melewati deadline. Bagian terpenting adalah fasilitas peta (map dan nearby) online yang terhubung GPS yang memudahkan si pemakai mencari akomodasi/resto/lokasi wisata disekitanya sesuai dengan daftar di LP. Jadi aplikasi ini memang buat temen2 yang terdampar di kota Eropa tanpa persiapan.
  • saya sendiri baru uji coba  kota London untuk mengetahui tingkat kegunaan dan aplikasinya.
  • please, pikir dahulu sebelum mengunduh apakah mempengaruhi biaya pemakaian iPhone.


Blog EntryJan 29, '10 1:04 PM
for everyone


It's been privilege for me that February Edition of UMag -lifestyle magazine in Indonesia published 12 pages of story, Himalaya Tinggal Sejengkal (Himalaya Within the Reach). A story about human contemplation to reach the highest mountain on earth.

Journey that inspired me to even further discovery about man and woman that endure condition between life and death. What they were looking for, and what the main obstacle to stand on the roof of the world. It was great trip, and I honored my partners: Nanung, Jenny, Ram -my trust worthy guide and Prem -young, smiley porter from Tamang.

My thanks also to editor of UMag, who did tremendously job with sentences and photos. I thought my Bahasa Indonesia need to replenish. Photos been arranged so beautifully, with minimum editing/manipulation. Thanks again.


PS: Other photos can be found in Flickr: Nepal an ordinary women's journey.






Saya terperangah ketika mengetahui salah satu argumen yang mengatakan Clara Sumarwati bukanlah 'pendaki sejati'  karena pendakiannya di sisi Utara(Tibet) dibantu dengan memakai  fixed rope dan tangga. Jika statemen ini yang digunakan, maka berarti ratusan pendaki sejak pasca Hillary-Tenzing (Selatan) dan tim China 1960 (Utara)  dianggap pendaki "gendongan." Argumen ini tidak masuk akal karena hampir semua pendaki yang ke Everest, terutama jalur normal menggunakan fixed rope. Kecuali yang betul-betul unsupported seperti Reinhold Messner, karena ia bergaya 'purist' (sangat tradisional alpin) di tahun 1980an. Ataupun Alison Hargraves (1995). Sekali lagi itu masalah style.

Penggunaan tangga China yang dipasang tahun 1975 itu sama juga menjelaskan soal fixed rope. Hanya beberapa pendaki saja yang melewati Second Step tanpa tangga (free climbing) dengan berbagai alasan salah satunya untuk melihat tingkat kesulitannya. Seperti pendaki Oscar Cadiach di tahun 1985, disusul pendaki Austria, Theo Fritche tahun 2001. Pada tahun 2007 dua orang pendaki Conrad Anker dan Leo Houlding mencoba free climbing dengan mencopot tangga China itu, dan kemudian memasangnya lagi sebagai bagian dari penelitian apakah George Malllory secara teori mampu melewati Second Step tanpa tangga ini di tahun 1924.

Fixed rope dan tangga juga berlaku di sisi Selatan (Nepal) Everest, seperti yang diungkapkan guide Anatoli Boukreev tentang Tim Indonesia'97 yang menggunakan jasa tangga dan tali tim lain ketika melewati Khumbu Ice Fall.

"There would be seventeen teams at Base Camp this year; I made a big effort to keep the group out of the usual Base Camp politics. There was a lot of brouhaha over who would fix the Icefall. The Sherpas from one or two expeditions fix the Icefall with ropes and ladders, and the expedition organizers get paid for their work. Co­lonialism dies hard. All the expeditions use this route, and the exped­ition leaders take the big money for use of the route from teams that don't contribute Sherpa help fixing the route, There was a brief lobby by the Pangboche Sherpa Cooperative to collect the big money this year. The competition for the ten to twenty thousand dollars is still too great. Henry Todd and Mal Duff pulled off the ice fall plum. Mal and a group of his Sherpas had hurriedly fixed the route we would use."

(The Climb-Epilog Return to Everest by Anatoli Boukreev page 237).


Tahun ini bakal ada 17 tim di Base Camp. Saya melakukan segala upaya untuk menghindari politik yang terjadi di Base Camp. Banyak sengketa tentang siapa yang akan memasang tali di Icefall. Para Sherpa dari satu atau dua tim ekspedisi biasanya memasang tali dan tangga kemudian organizer ekspedisi akan menarik uang dari kerja mereka. Kolonialisme telah kandas. Semua ekspedisi menggunakan rute ini dan para pemimpin ekspedisi akan mendapatkan uang banyak karena menggunakan rute dari tim yang tidak ikut membantu memasang tali pengaman.  Di tahun ini terdapat lobby sesaat dari Koperasi Sherpa Pangboche untuk mengumpulkan uang. Kompetisi untuk mendapatkan sepuluh hingga duapuluh ribu dollar terlalu besar untuk diabaikan. Henry Todd dan Mal [Malcolm] Duff mengambil kesempatan. Mal [Malcolm] dengan kelompok Sherpa bergegas memasang tali pengaman yang akan kami gunakan."

([terjemahan lengkap bisa diunduh di Scribb disini)


Perlu diketahui, hingga pendakian musim semi  1997 pemerintah Nepal menunjuk Malcolm Duff  dan Henry Todd (keduanya pimpinan ekspedisi dari UK)  untuk melakukan maintanance bersama dengan perusahaan Arun Treks (dipimpin Chhwang Sherpa). Setiap tim ekspedisi kemudian harus membayar fee atas penggunaan tangga dan tali di Khumbu Ice Fall. Jadi baik sisi Selatan dan Utara, bentuk politik fixed rope itu tetap ada dan melibatkan pemerintah setempat. Berbeda dengan sisi Selatan (Nepal) yang cenderung diatur, di sisi Utara (Tibet) adalah berupa kesepakatan bersama.


Karena itu saya meminta argumen tentang siapa orang Indonesia yang mendaki pertama Everest, janganlah dikaitkan dengan sesuatu yang tidak relevan dengan pendakian Tim Indonesia 96. Kita harus melihat dari kacamata yang lebih luas bagaimana proses dan kondisi mendaki Everest itu. Jika kita meragukan Clara Sumarwati HANYA karena masalah fixed rope dan tangga, maka itu juga akan mempertanyakan Tim Indonesia'97. Janganlah kita merusak apa yang sudah menjadi prestasi bangsa Indonesia di tingkat internasional hanya karena masalah ketidak tahuan semata. Saya tidak rela dikatakan Pak Asmudjiono itu bukan pendaki sejati hanya karena menggunakan fixed rope dan tangga tidur ketika menyeberang Khumbu Ice Fall. Saya akan bela mati-matian, karena semua pendaki-pun melakukan hal yang sama.

Saya sendiri dalam melacak pendakian Clara, berusaha untuk tidak terlalu mengaitkan dengan Tim Indonesia'97 karena tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi pada tim ini di bulan September 1996. Tetapi pandangan soal fixed rope ini saya berikan sebagai wawasan background penelitian. Karena orang cenderung membanding-bandingkan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tim Indonesia 96 dengan menggunakan referensi sepihak Tim Indonesia'97. (Tim Indonesia'97 menerbitkan buku putih dan personal account baik oral dan tertulis, tetapi untuk keperluan studi ini saya ambil dari konsultan pendaki Anatoli Boukreev untuk memberikan balance atas pencapaian tim Indonesia).

Membandingkan tim satu dengan tim lain yang menggunakan beda jalur sangat tidak relevan, terlebih dengan mangatakan jalur satu lebih berat dari jalur yang lain. Argumen ini sepertinya hanya untuk mengarahkan bahwa pendaki A lebih baik dari pendaki B. Saya tegaskan, Mount Everest punya tantangan tersendiri, tidak cuma jalur tetapi cuaca dan kemampuan fisik di pendaki.


Selatan atau Utara, mana yang terberat?



Banyak pendaki yang membilang sisi Selatan (Nepal) lebih 'mudah' dibandingkan dengan sisi Utara (Tibet). Kesan mudah ini dilihat dari banyak faktor, salah satunya adalah sisi logistik dan rute. Sisi Selatan dipandang lebih baik buat pendaki yang baru pertama kali menjajal Everest karena secara statistik lebih banyak keberhasilan dari sisi Nepal. Ini juga karena alasan ekspos dengan ketinggian ekstrem lebih singkat karena bisa dilakukan dalam sekali 'push'. Sedangkan dari sisi Utara (Tibet), camp tertinggi terletak di 8,400m yang berarti akan menghadapi paling tidak semalam di ketinggian pada saat percobaan muncak.

Karena itu bisa dibilang sisi Utara adalah sisi "pendaki" karena selain sedikit pendaki yang kesana, juga karena butuh aklimatisasi yang lebih lama dan kemampuan fisik menghadapi high altitute. Saya tegaskan, menghadapi high altitute bukanlah sebuah ilmu pasti, tetapi penuh misteri. Terbukti banyak yang lemah di bawah, tetapi kemudian mampu bertahan di gunung. Hal ini masih menjadi bahan penelitian medis untuk melihat sejauh mana kemampuan fisik manusia dalam kondisi udara yang hanya 1/3 yang kita hirup di muka laut.

Sisi Tibet juga jauh lebih murah dari sisi 'fee' atau biaya perijinan dengan tanpa pembatasan jumlah anggota tim. Jadi  anggota tim 2 ataupun 10 tetap membayar yang sama. Sisi Utara  pada tahun 1995 (asumsi 1996 tidak ada peningkatan) oleh pemerintah China di banrol seharga $15,000. Sedangkan di sisi Selatan (Nepal) ijin yang harus dibayar adalah $50,000 untuk tim beranggotakan 5 orang pendaki.

Untuk sisi Selatan juga terdapat halangan berarti yang disebut Hillary Step yakni bagian teknis yang memerlukan sedikit teknis untuk melampaui tebing Everest. Dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi sumber "kemacetan" di jalur sisi Selatan semata-mata karena banyaknya pendaki yang naik dan turun memerlukan waktu lebih lama disini. Karena itu salah satu strategi Tim Indonesia'97 Kopassus adalah mendahului tim lain dengan mendaki paling awal untuk menghindari kesalahan yang sama yang terjadi pada 1996 Everest Disaster.

Ada halangan lain di sisi  Nepal yang juga tidak bisa dipandang remeh yaitu Khumbu Ice Falls, yakni pendaki harus menyeberangi glasier tinggi yang sangat berbahaya. Rute ini biasanya digunakan tali dan tangga yang ditempatkan posisi tidur untuk digunakan menyeberangi bongkahan/retakan puncak glasier. Seperti yang diceritakan Anatoli Boukreev diatas, bahwa fixed rope dilakukan oleh tim komersial dari UK bekerja sama dengan tim lokal Nepal. Tim-tim yang tidak ikut menset ataupun melakukan upaya pemasangan harus membayar untuk bisa menggunakan tali pengaman tsb.

Sisi Utara (Tibet) juga terdapat halangan tinggi yakni serangkaian 'tangga' atau tebing tinggi yang harus dilalui, yakni First Step (Tangga Pertama) dan Second Step (Tangga Kedua). Di tahun 1924 dua pendaki Inggris Mallory dan Irvine terlihat disini tetapi kemudian menghilang. Teori mengatakan bahwa mereka bisa melampaui Second Step dengan salah satu menggunakan bahu seperti yang dilakukan tim China di tahun 1960.

Secara teknis, kedua sisi Utara ataupun Selatan mempunyai tantangan tersendiri. Dan itu bergantung pada manajemen tim untuk memutuskan sisi mana yang akan dijajal. Tim Indonesia 96 karena terbatas dana memilih sisi Utara. Ini juga karena dua tahun sebelumnya dua pendaki, Gibang Basuki dan Clara Sumarwati bersama tim PPGAD telah menjajal sisi Nepal, namun menyerah di South Col.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah juga faktor cuaca. Banyak sekali pendakian dengan pendaki terbaik di dunia yang tidak bisa mencapai puncak karena cuaca yang buruk. Disinilah faktor guide dan Sherpa sangat penting karena mereka bisa mengenali tanda cuaca. Bahkan untuk operator komersial mereka berlangganan laporan cuaca yang akurat langsung dari Eropa/USA untuk dikirim via satelit dalam meramal kapan mulai melakukan 'summit push'

Dengan persiapan sematang apapaun jika kondisi cuaca sangat buruk, tidak ada pendaki yang nekad. Atau nyawa sebagai taruhannya.







Dalam personal account Clara Sumarwati yang diberikanya pada wartawan Gatra, ada bagian yang cukup menarik perhatian saya, yakni apa yang disebut "Politik Tali Pengaman."
Praktek ini umum terjadi di base camp dan amat jarang diungkapkan baik secara literatur dan tulisan populer. Menjadi semacam rahasia umum di kalangan pendaki, operator komersial bahkan sejarahwan.


Dalam proses mendaki Everest untuk jalur populer (artinya bukan membuka jalur baru ataupun jalur sulit), tim ekspedisi yang tiba pertama di lokasi biasanya yang akan memasang tali pengaman (fixed roped). Untuk pendakian era modern, tali ini berfungsi sebagai perlindungan disisi curam atau tebing yang terlalu ekspos. Dengan tali ini, pendaki menggunakan asscender untuk menarik tubuhnya lebih tinggi. Panjang tali bisa mencapai lebih dari 2km dibagi beberapa seksi.

Pendakian Everest di era modern menggunakan jasa sherpa atau guide untuk memasang tali pengaman ini. Karena pekerjaan yang sangat berat, mahal dan juga beresiko maka pemasangan tali pengaman terkadang adalah upaya bersama dari beberapa ekspedisi. Ada yang menyumbangkan tali, tenaga atau bahkan komunikasi untuk menset tali pengaman. Dalam beberapa praktek, bentuk 'kontribusi' itu bisa berupa uang ataupun apa saja.

Sekitar akhir tahun 90an ketika era komersial trip bermunculan, politik tali pengaman ini makin keras dan terkadang 'setengah memaksa.' Ekspedisi yang satu merasa melakukan pekerjaan yang lebih dibanding tim lain dan berpikir bahwa timnya 'memiliki' tali pengaman. Cerita detail akan saya sertakan dari terjemahan tulisan Greg Child berjudul Ketika Aku Nyaris Tidak Mendaki Everest yang juga mengungkapkan praktek ini. Terus-terang agak sulit mendapatkan tulisan yang jujur dan apa adanya seperti yang dituliskan Greg Child ataupun dari Clara Sumarwati. Termasuk tulisan Jon Krakuer yang menutup-nutupi praktek ini dan melemparkan kesalahan pada guide dan sherpa. (Buku Into Thin Air banyak dikecam terutama dari pihak Sherpa, karena sisi pandang yang sangat sentris dan tidak berimbang).

**

Kaitan dengan pendakian tim Indonesia 1996 adalah melihat bagaimana interaksi antar tim di sisi Utara pada musim gugur itu. Tim Indonesia walaupun hanya beranggota dua orang pendaki tetapi mereka didukung para Sherpa yang sangat berpengalaman. Sherpa disini ada dua macam: yakni high altitude-HA Sherpa yang bekerja hingga puncak Everest, dan ada Sherpa yang hanya bekerja seperti porter dengan mencapai camp dibawah death zone. Tiga orang Sherpa yang bersama Tim Indonesia'96 pernah mendaki Everest, bahkan seorang diantaranya mendaki tiga kali. Satu orang dari tiga Sherpa yang pernah ke Everest ini ternyata pernah bersama tim di sisi Utara dengan cucu legenda Everest, George Leigh Mallory pada bulan Mei 1995. (fakta ini saya temukan belum lama dan kebetulan saja berkat sebuah photo AAJ 1996  Vol 50-51 hal 314). Satu orang Sherpa mendaki Everest pertama kali, dan seorang pernah mendaki medan berat Annapurna I, Kanchenjunga dan Nupste. (perlu diketahui, walaupun Everest adalah gunung tertinggi, tetapi bukan berarti paling sulit dalam perspektif pendaki Himalaya).

Tim Indonesia' 96 juga tidak menggunakan guide. Yang disebut guide disini adalah pendaki yang pernah mendaki Everest sebelumnya dan memberikan arahan teknis untuk mendaki bersama. Biasanya adalah pendaki dari negara yang lebih mengenal mountaineering seperti US, Selandia Baru, Eropa Barat/Timur atau bahkan negara seperti Rusia. Fenomena guide ini sebenarnya mulai muncul era akhir 90an, biasanya ia bersifat freelance. Bisa saja ia bergabung dengan tim ekspedisi komersial ataupun non komersial. Konfigurasi keanggotaan Tim Indonesia' 96 ini membuat mereka bisa mendapatkan ijin pasca musibah musim semi 1996 yang terjadi di Everest sisi Nepal, berselang beberapa bulan sebelumnya.

Pada bulan Mei musim semi 1996 yang merupakan musim favorit mendaki, terdapat 30 tim internasional (mixed antara komersial dan non) yang menjajal Everest. Dari sisi Utara (Tibet) terdapat 16 tim, sedangkan dari sebelah Selatan (Nepal) terdapat 14 tim. Musim ini juga ditandai banyaknya pendaki yang antre di puncak Everest mengakibatkan kemacetan dan menjadi pemicu sekunder apa yang disebut 1996 Everest Disaster. Tercatat 7 orang tewas pada satu periode pendakian, disusul 5 orang pendaki masih dalam musim yang sama.

Peristiwa ini membawa gelombang protes dan perhatian pada autoritas Everest baik Nepal dan Tibet/China. Kedua pemerintah dianggap hanya mengejar uang fees dan mengabaikan keamanan. Kritik keras ini mengakibatkan kedua negara menarik ijin pendakian terutama dari tim-tim komersial. (6 orang dari total yang meninggal berasal dari Mountain Madness dan Adventure Consultant). Karena itu tidak heran jika musim gugur 1996 ketika tim Indonesia mendaki sisi Utara, jumlah ekspedisi menurun drastis dan hampir semua adalah non komersial atau tim internasional -kumpulan pendaki dari berbagai negara yang bergabung dalam satu tim. Faktor lain adalah kekhawatiran adanya cuaca buruk pasca bulan Mei, bisa saja terjadi lagi.

Bulan September musim gugur 1996 disisi Utara (Tibet) Everest terdapat 4 tim. Mereka adalah tim Indonesia, tim gabungan Czech-Slovakia-UK, tim Afrika Selatan, dan tim gabungan USA-Jerman-Yugoslavia (sekarang Serbia). Dari sisi Nepal juga hanya terdapat 4 tim saja. Bandingkan dengan musim sebelumnya, yang secara total mencapai 30 tim.


Clara menceritakan bahwa Sherpanya memasang tali pengaman karena merekalah yang pertama kali tiba di lokasi.

"Tim Cheko yang beranggotakan 12 orang itu akhirnya memberi tali, tenda, bahan makanan, serta meminjamkan alat telekomunikasi berupa telepon satelit. Oleh Gibang Basuki, pemberian itu diserahkan kepada Ghalzhen dan 11 anggota pembawa barang lainnya. Sedangkan enam orang tim Afrika, yang juga menggunakan rute Indonesia, menyumbangkan tali dan uang kontan US$ 200. Lalu ada pula sebuah tim lain yang menolak dimintai sumbangan. Belakangan baru diketahui, ternyata mereka cuma mengantongi izin pendakian untuk seminggu. Artinya, ya mereka tidak bakal sampai ke pucuk Everest". (dikutip Gatra 14 November 1996 -Dara Yogya Menjejak Pucuk Bumi)


Dilihat dari catatan keempat tim di Himalayan Database, tim Indonesia tiba di Base Camp pada ketinggian sekitar 5,200m pada tanggal 20 Agustus 1996. Sedangkan tim lainnya datang belakangan. Tim Czech tiba pada 29 Agustus, tim Afrika Selatan pada tanggal 5 September, sedangkan tim USA (sebut saja begitu) paling akhir yakni tanggal 13 September.

Dari empat tim ini, hanya tiga yang melakukan upaya (attempt) menuju puncak Everest. Satu tim lain, yakni tim USA-Jerman-Yugoslavia tercerai berai. Tim ini tidak pernah mencapai diatas ABC (Advanced Base Camp di ketinggian 6,400m), satu orang, Slobodan Gejo -dokter yang memberikan obat antibiotik pada Clara Sumarwati ternyata mengalami cerebral oedema hingga harus diturunkan dari basecamp. Si pemimpin ekspedisi, Craig Calonica yang ingin menjadi orang pertama yang melakukan ski turun dari Everest malah mengalami sakit flu berat yang membuatnya kembali ke Kathmandu. Mereka memutuskan tidak akan melakukan attempt sebagai upaya penghematan. Yakni jika tidak mencoba mendaki tahun ini, maka secara otomatis ijin tetap akan berlaku untuk tahun depan tanpa perlu membayar fee lagi. (Yang dimaksud 'attempt' adalah mendaki diatas ABC). Jadi praktis hanya 3 tim yang mencoba melakukan pendakian dan berbagi tali pengaman.

Disinilah politik tali pengaman terjadi. Tim Indonesia, diwakili Sherpa berusaha mengkoordinasi untuk memasang tali. Mereka cukup diuntungkan dengan kedatangannya yang dini, punya waktu yang cukup untuk aklimatisasi. Tim Indonesia tercatat mencapai ABC pada tanggal 26 Agustus 1996, jauh memimpin diantara tim lain.

Tim Czech Republik terdiri dari 12 orang pendaki, dua orang Slovakia dan satu orang UK. Semuanya adalah murni pendaki non komersial. Mereka punya ambisi untuk menjadi orang Czech pertama yang mendaki tanpa oksigen. Mereka ini juga tidak menggunakan guide dan hanya menyewa porter dari suku Tamang untuk mengangkut bawaan hingga ketinggian hampir 8000m. Tim Afrika Selatan dipimpin seorang anak muda bernama Alexander Harris. Ia masih berusia 25 tahun saat itu, termuda sebagai pimpinan tim Everest dengan tanpa membawa sherpa, guide dan tabung oksigen. Jadi satu-satunya yang mempunyai sumber tenaga Sherpa yang berpengalaman adalah Tim Indonesia.

Dengan memahami apa yang terjadi di basecamp dan interaksi antara tim satu dengan yang lain, saya mencoba merangkai kronologis antara tiga tim ini. Saya juga mencari faktor-faktor lain yang menyebabkan pendakian musim gugur 1996 mengalami banyak kegagalan. Pada musim itu tercatat hanya Tim Indonesia yang mencapai puncak dari sisi Utara, dengan tidak ada catatan kematian/kecelakaan berat dari tiga tim. Sedangkan di sisi Selatan (Nepal), hanya tim dari Korea Selatan yang berhasil tetapi berakibat tiga orang pendaki/sherpa tewas.

Ternyata Everest belum surut mengamuk.





Everest adalah gunung yang penuh dinamika politik. Secara geografis, gunung ini terbagi menjadi dua wilayah, yakni Nepal di sisi Selatan dan Tibet di sisi Utara. Masing-masing mempunyai pemerintah dan autoritas pendakian sendiri, baik dari soal mengeluarkan aturan pendakian, climbing permits, biaya ijin dan segala hal pengaturan ekspedisi.

Dalam sejarah ekspedisi Himalaya tahun 1900an, hampir semua ijin dan pengaturan logistik dimulai di Darjeeling, sebuah kota kecil wilayah India yang letaknya berbatasan dengan Himalaya. Para eksplorer dari Eropa, dimulai Inggris kemudian Jerman hingga Swiss menjajaki wilayah Himalaya dimulai trekking dari India/Pakistan. Saat itu eksplorer Barat juga menjalin hubungan yang baik dengan pemimpin Tibet Dalai Lama dengan mengijinkan berbagai ekspedisi mendaki gunung. (Tentu masih ingat tentang Seven Years in Tibet karya pendaki Heinrich Herrer yang memantau situasi politik menjelang invasi China). Disisi lain Nepal adalah kerajaan kecil yang tertutup, menolak segala bentuk pendakian dari Barat.

Karena tekanan China, di tahun 50'an Tibet ditutup untuk semua pendakian. Itulah kenapa ekspedisi Inggris tahun 1920an seperti Mallory-Irvine berakhir di wilayah Utara (Tibet) mempunyai jeda yang sangat lama dengan keberhasilan pendakian Everest 1953 sisi selatan. Karena Nepal di tahun itu menjadi satu-satunya pintu masuk yang paling mudah menuju Everest, setelah jatuhnya dinasti raja Rana. Nepal berubah demokratis dengan membuka pintu isolasi. Semua kepentingan logistik ekspedisi berpindah dari Darjeeling ke ibukota Nepal, Kathmandu. Tibet sendiri tidak pernah menjadi kota utama pendakian, karena infrastruktur seperti kebutuhan porter, sherpa yang ahli, yaks (binatang pengangkut barang) dan peralatan tidak selengkap Kathmandu.

Nepal membentuk Nepal Mountaineering Association NMA yang mempunyai otoritas soal pendakian/trekking Himalaya. Pembentukan organisasi ini dibawah naungan Menteri Pariwisata Nepal. Dalam prakteknya pendakian di Nepal tidak bersifat militeristik, karena Everest tidak menjaga secara ketat. (Dalam perkembangan terbaru, ada laporan tentang separatis Maoist -komunis Nepal yang merampok, tetapi mereka tidak punya otoritas apapun soal pendakian).

Sejak tahun 1930an muncul yang disebut kronikel atau pencatat kegiatan pendakian Himalaya. Mereka ini adalah koresponden/jurnalis yang melaporkan kisah pendakian Himalaya bagi jurnal atau penerbitan di negara Barat. Laporan mereka adalah rangkuman baik yang diperoleh secara underground maupun melalui jalur resmi, yakni Kementrian Pariwisata Nepal. Dimulai Günter Oskar Dyhrenfurth yang memulai membuat tabel di tahun 1930 hingga Liz Hawley dan Mike Cheney yang melaporkan secara berkala pada American Alpine Journal (AAJ) semenjak 1950an. Laporan merekalah yang kemudian secara resmi diterima sebagai 'pengakuan' dunia mountaineering terhadap klaim seorang pendaki.

Sedangkan Tibet kemudian membentuk Chinese Tibet Mountaineering Association CTMA. Organisasi ini hampir sepenuhnya dikontrol oleh pemerintah China di Beijing dengan mengharuskan setiap ekspedisi membayar LO (Liasion Officer) dari CTMA untuk 'mengawasi' pendakian. Di Everest Base Camp (EBC) wilayah Tibetpun dijaga secara ketat oleh tentara China. Petugas LO inilah yang kemudian melaporkan kepada otoritas Chinese Mountaineering Assoiciation CMA di Beijing tentang para pendaki yang mencapai puncak, melanggar aturan atau bahkan diberi sangsi. Walaupun pihak CTMA adalah otoritas resmi di Tibet, tetapi hampir semua logistik pendakian berasal dari Kathmandu. Karena itu klaim pendaki di Tibet selalu dikonfirmasikan dengan para sherpa dan organiser disana. Para kronikel yang bekerja di Katmandu selalu mendapat laporan dari pihak pertama, bukan melalui tangan militer atau CTMA/CMA di Tibet.

Karena itu hasil laporan yang diterbitkan oleh para kronikel ini dipandang dunia mountaineering sebagai laporan yang independen. Bukan saja terhindar dari bias politis tetapi juga adalah berdasarkan laporan dari para pelaku. Ahli kronikel lain seperti Audrey Salkeld, Xavier Eguskitza, dan Miss Hawley adalah tokoh sejarah pendakian yang hasil statistik mereka dipakai para pendaki yang akan menjajal gunung di Himalaya, seperti Reinhold Messner. (Messner seringkali berkonsultasi dengan Miss Hawley tentang jalur mana yang belum pernah didaki sebelumnya. Ini membuat karirnya sangat cepat melesat).

Disisi lain, walaupun CTMA/CMA di Tibet adalah otoritas resmi tetapi mereka tidak pernah menerbitkan tabel ataupun catatan statistik pendaki lewat sisi Selatan. Mereka juga tidak mempunyai sistem dokumentasi yang baik untuk menyimpan data dan urutan pendaki yang mencapai puncak Everest. Pihak China/Tibet hanya menerbitkan sertifikat berisi nama pendaki dan kapan pendakian samapai di puncak. Kalangan mountaineering menduga, ini disebabkan tertutupnya birokrasi di China dan juga 'sakit hati' akan prestasi pendakian tim China tahun 1960 yang tidak diakui dunia mountaineering. (Dalam perkembangannya, ahli sejarah Everest menyatakan bahwa sisi Utara Everest didaki pertama kali oleh dua orang China Wang Fuzhou dan Qu Yinhua beserta seorangTibet bernama Gingbu. Pendakian mereka juga tidak ada photo di puncak walaupun dilengkapi film dan photo).

Pertarungan otoritas pendakian ini mewarnai Everest era modern hingga sekarang. Pihak Nepal diwakili NMA kemudian membuat tabel statistik mereka berdasarkan pendakian yang 'diakui' dari kriteria mereka di sisi Nepal saja. Sedangkan pihak CTMA juga menjadi pihak yang dipandang mengakui keberhasilan seorang pendaki, walaupun hanya lewat selembar kertas.

Disisi lain para pendaki masih harus melewati uji dan kros cek klaim dari para kronikel. Sepulang mendaki dan mengklaim puncak, kronikel seperti Miss Hawley meminta bertemu dan menanyai mereka dengan detail. Dari pernyataan tim A kemudian ditanyakan pada tim B yang pada saat itu berada di gunung pada sisi yang sama. Ini masih ditanyakan lagi jika pendaki ini bertemu di puncak lewat sisi yang lain. Apa yang dilakukan para kronikel ini mirip yang dilakukan jurnalis, yakni melakukan investigasi dari semua pihak. Berbeda dengan pihak otoritas resmi, para kronikel ini mempunyai catatan yang dilengkapi kedalaman berita. Apakah tim itu gagal, anggota/sherpa yang tewas ataupun pendakian yang berhasil tetap dicatat dengan cerita yang mungkin tidak ditemui dari pihak Kementrian.

Persinggungan otoritas ini menunjukkan bahwa walaupun dunia mountaineering berusaha melakukan self-control tetapi sisi politis dengan pihak pemerintah setempat tidak dapat dihindarkan. Dalam era pendakian modern Everest yang cenderung mengarah ke komersial dan kemajuan tehnologi komunikasi menjadikan klaim pendaki harus disikapi hati-hati.

Dalam salah satu kasus seperti Dale Abenojar, pendaki dari Phillipine yang mendaki sisi Tibet di tahun 2006 misalnya. Pihak CTMA mengeluarkan sertifikat ia berada di puncak pada tanggal 15 Mei 2006 pukul 10:45 waktu Beijing walaupun sertifikat itu dikeluarkan pada tanggal 20 Mei. Para kronikel menyetujui dan menyebut Abenojar adalah orang Phillipine pertama yang mencapai puncak, dua hari sebelum Leo Oracion -dari tim resmi Phillipine yang menyatakan diri mencapai puncak pada tanggal 17 Mei lewat sisi Utara.

Dalam penelusuran Clara Sumarwati, saya mengambil metode seperti para kronikel. Saya berpandangan bahwa selembar photo dan sertifikat adalah simbolik, tetapi tidak menunjukkan peristiwa itu sendiri. Proses pendakian yang lebih dalam, pernik dan krisis pendakian sebuah tim dipandang dari urutan awal hingga akhir. Hal ini juga menyadarkan saya bahwa sebuah pendakian terlebih sekelas Everest, janganlah dipandang sebuah hasil akhir saja. Tetapi harus dilihat adanya proses panjang yang menentukan seorang pendaki itu adalah pendaki yang sebenarnya.

Puncak bukan segalanya.



Photo dari Roderick McKenzie








Dalam tahun pertama pelacakan pendakian Tim Indonesia 1996, sangat sedikit informasi yang saya dapat. Karena saya tidak berada di Indonesia, satu-satunya alat yang bisa membantu adalah internet (thanks to Google). Tahun 2005-6 hanya sebuah website Indonesia yang memberikan 'sedikit' tentang Clara Sumarwati yakni di harian Sinar Harapan versi online berjudul Kilas Balik Petualangan Srikandi Indonesia tertulis 2003 "...dunia petualangan dikejutkan dengan keberhasilan Clara Sumarwati meraih puncak Everest pada 1996. Sayangnya, keberhasilan Clara menjadi kontroversi lantaran ia gagal menunjukkan foto di puncak tertinggi dunia itu."

Dalam artikel lain yang menguak sejarahl ekspedisi yang dilakukan tim putri Indonesia beserta tantangannya, lagi-lagi dalam artikel Sinar Harapan berjudul: Ekspedisi Perempuan Petualangan Indonesia Surut Gara-gara Beragam Kendala. "Sebelumnya, sempat tersiar kabar bahwa pendaki putri kita, Clara Sumarwati berhasil meraih tripod Everest. Sayang banyak kalangan meragukan keberhasilan ekspedisi tersebut."

Kalimat diatas inilah yang membuat saya makin tertarik. Apa yang dimaksud 'tersiar kabar'? Siapa yang mengabarkan? Kenapa diragukan? Kenapa harus ada photo tripod? Berderet pertanyaan makin mengganggu saya.

Beberapa pencarian lebih dalam kemudian memunculkan beberapa hasil. Termasuk dari website khusus mengenai Everest seperti everesthistory.com dan everestnews.com. Dalam everesthistory, nama Clara Sumarwati muncul di tabel yang disusun sebagai pendaki yang berhasil mencapai puncak Everest di tahun 1996. Everestnews.com memunculkan 'berita' relay dengan Jakarta Post berjudul "World’s Highest Peaks Await Clara" tertanggal Jumat 16 Agustus 2002 bahwa Clara Sumarwati akan melakukan 7summit setelah keberhasilan pendakian Everest 1996.

Cukup? Well, buat saya ini tidak memuaskan. Ada yang hilang disini yakni personal account dari Clara Sumarwati. Semua sumber diatas adalah dari pihak ketiga, dan bukan dari si pelaku sendiri. Saya menilai baik everesthistory dan everestnews bukanlah sumber yang sahih. Terutama EverestHistory yang tidak mau mengaku darimana mendapatkan data tsb. Menurut saya, hasil data harus dikonfirmasikan pada sumber data. Siapa yang membuat dan bagaimana ia membuat data. Tabel itu tentu tidak muncul tiba-tiba. Dari sini saya mulai merasakan jebakan Google. Betul bahwa mesin pencari ini sangat manjur untuk mencari informasi tetapi nilai kebenarannya belum tentu terjamin.

Baru ketika saya menemukan tulisan Gatra [1] dalam dua edisi yakni tanggal 14 Oktober 1996 berjudul Clara di Puncak Everest dan 11 November 1996 (tiga artikel: Dari Mimpi Menjadi Sungguhan; Dara Yogya Menjejak Pucuk Bumi; Profil Clara) menjadikan pelacakan sangat intensif. Ini dilengkapi dengan buku tentang pendakian medio 90'an juga sejarah Everest, menuntun saya untuk mencari si sumber tabel dan pengamat Everest. Siapa sih yang punya otoritas untuk menyatakan pendaki sampai puncak. Apakah memang pendakian tim Indonesia 1996 ini dianggap 'bermasalah' dalam kacamata internasional?


Sumber Literatur Vs Internet

Dalam dunia mountaineering lingkup dunia, klaim seorang pendaki selalu dipelajari. Terutama dokumentasi di Himalaya dan Eropa. Rute baru, prestasi baru dicatat dan dilaporkan dalam format jurnal. Yakni jurnal ilmiah yang berisi detail pendakian, rute yang diambil, tingkat kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Ini selain sebagai 'pernyataan atau klaim' pendaki juga memberikan kesempatan orang lain untuk menjajal atau mencoba rute yang baru. Jurnal seperti AAJ (American Alpine Journal) dan AJ (Alpine Journal- UK) atau ACG (Alpine Climbing Group) memberikan laporan dan berita tentang pendakian di sudut dunia. Belum lagi majalah-majalah yang mengkhususkan pada pendakian/adventure misalnya High (udah almarhum menjadi Climb) atau Outside.

Dari sini saya beralih dari pencarian internet menjadi penelitian literatur yang lebih fokus. Beberapa peristiwa dunia menjadi latar belakang tim pendakian Indonesia seperti buku Into Thin Air -musibah paling menghebohkan di sisi selatan Everest 1996 yang hanya beberapa bulan dari pendakian Clara Sumarwati untuk mencari kemungkinan efek politis. (Ini kemudian terbukti bahwa ijin pendakian sangat sedikit yang diberikan pada tim non komersial pasca musibah itu -efek tidak langsung yang menguntungkan tim Indonesia 1996). Walaupun hanya sekilas, jika memang betul maka prestasi tim Indonesia tentu ada yang mencatat begitu pikir saya.

Saya mengingatkan bahwa dalam dunia mountaineering dengan para pendakinya berbeda dengan otoritas politik (pemerintah, lembaga mountaineering) walaupun kenyataannya saling bersinergi. Everest mengalami pergeseran besar akhir 90an ketika pendakian dibagi dalam dua mainstream: tim ekspedisi non komersial dan komersial. Dalam melihat kasus Clara, walaupun tim Indonesia 1996 dianggap bukan tim 'resmi' yang diakui tetapi mereka adalah tetap wakil Indonesia. Ini terlihat dari bentuk timnya yang tidak melibatkan warga negara lain, hanya Indonesia dan Nepal (sherpa). Konflik ini akan terlihat pada pendaki dari negara berkembang yang mulai melakukan pendakian atasnama negara versus pendaki independen komersial. Seperti halnya pendaki Phillipine bernama Dale Tomas Abenojar. [Kasus Abenojar tahun 2006 ini juga menunjukkan kontroversi yang mirip dengan Clara Sumarwati dalam hal politik pendakian -ini tidak akan saya singgung lebih dalam karena keluar dari konteks].

Salah satu bahaya besar dalam penelusuran Clara Sumarwati adalah apa yang saya sebut prekondisi, yakni mengumpulkan bukti untuk membenarkan sebagai justifikasi. Dalam kasus Clara, saya memandang bahwa personal accountnya di Gatra cukup jelas sebagai pernyataan awal, walaupun mungkin benar dan tidak. Yang perlu dilakukan adalah apakah keterangan yang diberikannya itu sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Saya berpedoman, tidak ada maling yang mau mengaku. Jadi jika menuntut Clara untuk memberikan bukti photo dirinya bersanding dengan tripod di puncak Everest, buat saya itu sangat absurd. Jika dia tidak punya kenapa harus diminta.
 
Dalam hal ini prekondisi amat berbahaya karena kita sudah mempunyai keyakinan terlebih dahulu. Ini seperti saya yang sudah yakin si A malingnya, maka cenderung mencari bukti yang mengarah kesana. Kita harus membebaskan diri dari prekondisi ini karena jika kita percaya Clara mencapai puncak, kritik yang diberikan padanya akan dianggap sebagai serangan tak berdasar. Sebaliknya jika kita percaya Clara tidak ke puncak, maka keterangan/bukti apapun dari Clara tidak akan diterima. Karena itu saya cenderung mencari lewat materi yang telah ada. Bukti, statement dan data yang tersedia amat banyak tergantung dari kita yang mau mencari. Memang butuh waktu yang lama dan kesabaran.

Dalam tulisan pertama, saya menyinggung bahwa tujuan penelitian ini membawa perdebatan pendakian tim Indonesia 1996 pada wilayah yang struktural. Tidak ada niat untuk mengecilkan peran tim Indonesia 1997 atau siapapun disini. Setiap warga Indonesia yang mendaki Everest akan selalu kita kenang jasanya. Mereka inilah para perintis mountaineering yang membawa nama harum bangsa di tingkat internasional.


Catatan kaki:
[1] Belum lama ini muncul blog/web yang menyatakan mengambil tulisan dari sumber Gatra. Seperti halnya terjemahan Anatoli Boukreev di web yang diintrepretasi beda, maka tulisan di web/blog menghilangkan dengan sengaja/tidak beberapa bagian yang dianggap sensitif seperti siapa pemberi dana pendakian Clara dan berapa jumlah dana yang dihabiskannya.




Disclosure: photo yang digunakan untuk uji material ini adalah photo yang tersedia dalam wilayah publik (public domain) yakni photo yang diunggah oleh Clara Sumarwati untuk umum ataupun photo yang diberikannya pada majalah/publikasi, bukan photo yang diberikan secara eksklusif kepada saya. (Saya tidak pernah mendapatkan hak khusus ini). Hasil dari uji forensik ini belum final dan belum dikonfirmasikan dengan banyak pihak. Tetapi hanya menunjukkan proses bagaimana melakukan forensik pada sebuah photo pendakian.


Alasan pertama saya tertarik dengan pendakian Tim Indonesia 1996 adalah karena klaim Clara Sumarwati yang mencapai puncak Everest sisi Utara pada bulan September itu ditolak oleh masyarakat mountaineering Indonesia. Alasannya karena ketiadaan photo yang menunjukkan pose dirinya pada lokasi yang menunjukkan puncak. Photo yang diakuinya puncak ditolak karena dianggap diambil bukan dari lokasi puncak Mount Everest yang digambarkan terdapat tripod dan bendera doa lima warna.

Seperti yang pernah saya sampaikan, hal ini menarik karena saya ingin melakukan forensik photo puncak tadi. Yakni melihat dari dekat informasi apa yang bisa didapat dari photo. Berbeda dengan para pengkritik Clara yang menuntut photo dengan tripod, saya cenderung bekerja dengan materi yang telah ada. Yaitu photo-photo yang beredar untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar : dimana lokasi photo diambil dan kira-kira kapan photo itu diambil. Well, jika ada yang bilang bahwa gambar berarti seribu kata memang begitulah adanya.

Photo yang saya pakai sebagai sample adalah photo yang diberikannya pada Gatra. Saya tertarik pada dua buah photo yang disebutnya sebagai photo puncak. Yakni photo ketika ia membawa bendera merah putih dan photo ketika ia mengacungkan kapak es dengan tangan kanan. Saya mencoba melakukan analisa. Photo dengan bendera dalam posisi potrait cukup menarik karena menunjukkan tanggal print cetak. Sedangkan dengan kapak es dalam posisi landscape (melebar) terdapat sedikit gundukan gunung di kejauhan yang bisa dilakukan sebagai referensi geografis. Kedua photo ini secara konsisten menunjukkan bahwa cuaca saat itu cerah dengan tidak adanya awan dan badai. Photo tadi juga menunjukkan Clara Sumarwati tidak menggunakan fixed rope (tali pengaman), dalam posisi lereng dengan kemiringan minimum 20derajat.

Kemudian beberapa photo lain mulai muncul, yakni photo dirinya yang memegang majalah Time Asia bergambar depan Presiden Soeharto dengan sherpa yang memegang bendera bertuliskan bahasa Nepal dan Inggris. Juga photo yang saya indikasikan adalah photo asal dari photo memegang kampak es yang diterbitkan Gatra. Sebuah photo lagi adalah penampakan Camp 3 dengan seorang pendaki terduduk di depan tenda. (Saya perlu mengindetifikasikan lebih jauh tentang siapa yang duduk ini karena photo yang sangat gelap).

Dari seri photo ini saya menyimpulkan konsistensi pada pakaian yang dipakai oleh pendaki, sehingga bisa membedakan mana si sherpa dan mana Clara. Sebagai referensi Clara memakai body suite warna merah, dengan biru gelap di bagian atas dengan kaos tangan warna merah. Ranselnya berwarna merah dan hitam berisi tabung oksigen.

Dari dua photo pertama Gatra saya mengabaikan tanggal dan tahun yang tercetak karena saya lihat tidak sesuai dengan sebenarnya. (beberapa photo menunjukkan waktu tercetak bulan Maret 94). Setting pada film kamera ini biasanya terletak di belakang dan hanya pemilik kamera yang sadar dan mampu merubah setting ketika membeli sebelum dipasangi film. (Ini sama dengan kamera digital yang perlu setting manusia untuk memberikan waktu yang tepat. Setting ini tidak bisa dijadikan referensi karena faktor human error -tidak nyetting ketika beli, perbedaan waktu di lokasi dsb).

Photo dengan bendera merah putih menarik karena saya ingin mendapatkan informasi pukul berapa foto itu diambil. Apakah bisa? Disinilah menariknya forensik karena mengaitkan antara matematika sederhana, geography dan juga pengetahuan tentang pergerakan bumi dan matahari. Photo tsb memberikan bayangan tubuh pendaki yang jika dihitung akan memberikan berapa sudut dari matahari, yaitu yang disebut solar time (waktu matahari). Waktu matahari ini berbeda satu dengan yang lain berdasarkan letak dan waktu kalender. Ini tidak berlaku di Indonesia karena letaknya di garis ekuator, yang durasi matahari terbit dan tenggelam adalah sama. Yakni muncul pulul 6 dan tenggelam pukul 6, dengan tengah hari sekitar pukul 12 siang. Di negara lain dalam letak koordinat bumi yang berbeda, matahari bisa muncul pukul 8 dan tenggelam pukul 4 sore dengan tengah hari pukul 2 siang. Jadi ada dua waktu disini, yakni waktu matahari dan waktu lokal.


Clara Sumarwarti beserta para sherpa menapak gigir Northeast (timur laut) sedangkan bayangannya adalah di sebelah kanan. Berarti asal cahaya matahari adalah dil sebelah timur (jika diambil sebelum tengah hari) atau sebelah barat (jika diambil setelah tengah hari). Photo dengan bendera tidak cukup memberi referensi karena bayangannya terpenggal, sedangkan photo dengan majalah Time cukup memberikan panjang bayangan yang saya inginkan. Panjang bayangan juga mengindikasikan bahwa waktu saat itu masih sangat pagi ataupun sangat sore, artinya ketinggian matahari tidaklah diatas 60 derajat. Ini terlihat dari bayangan yang sangat panjang melebihi tinggi tubuhnya sendiri.

Sebagai referensi saya mendapatkan data tentang pergerakan matahari tepat pada tanggal 26 September 1996 -tanggal ketika Clara dinyatakan berada pada lokasi puncak Everest (longitude dan latitude). Jadi jika saya bisa menentukan dari photo ketinggian matahari maka saya bisa mendapatkan kepastian kapan photo itu diambil berdasarkan data tsb. Waktu pengambilan photo itu krusial karena menunjukkan situasi dan kondisi pendaki dalam konteks cerita pendakian. Jika diambil pagi hari berarti konsisten dengan pernyataan Clara dan timnya yang membilang sampai di puncak pada pukul 11:00 waktu setempat (berdasarkan Himalayan Databases) atau pukul 13:00 waktu setempat (berdasarkan personal account di Gatra yang didapat langsung via telpon jarak jauh). Perbedaan waktu ini sangat menarik karena penggunaan "waktu setempat". Apakah Clara menyebut 13:00 itu waktu Nepal atau waktu Tibet? Dalam geografis waktu universal disebut GMT (Greenwich Mean Time) atau UTC (Coordinated Universal Time). Waktu setempat Nepal adalah UTC+5:45 sedangkan waktu Tibet adalah UTC+6:00. Ini akan menjadi sangat berbeda jika waktu setempat yang dipakai adalah waktu China (Beijing) yang menggunakan UTC+8:00, jika Clara menggunakan ini ketika mendaftarkan dirinya pada CTMA (Chinese Tibet Mountaineering Association).

Penggunaan data geography seperti peta kontur membantu memberikan kelengkapan kemiringan medan. Google Earth saat ini cukup powerful untuk melihat Mount Everest dalam 3D dan embedded dengan GPS Visualizer lengkap dengan topo dan contour. Google Earth bahkan memproduksi Everest Tour yang memberikan referensi letak Camp berdasarkan keterangan para pendaki dunia seperti Eric Simonson dan Alan Arnette. Juga puncak-puncak diatas 7000m yang berada di pegunungan Himalaya. Sebagai referensi geografis saya juga menggunakan photo-photo para pendaki lain yang memberikan informasi tentang kondisi lapangan, termasuk puncak Everest. Termasuk pendaki yang mendaki para periode yang hampir sama dengan Tim Indonesia 1996. Ini juga didapat dari beberapa pendaki lain yang pernah satu musim dengan Clara Sumarwati. (Saya memakai pendakian Cathy O'Dowd yang dilakukan tahun 1999 pada sisi Utara dan 1996 sisi Selatan. Tiga pendaki Afrika Selatan yang semusim dengan Clara kembali melakukan percobaan dan dua orang diantaranya adalah 7summiter).

Dari kombinasi penelitian diatas saya bisa menyimpulkan beberapa hal, walaupun tentu ini masih perlu dikonfirmasikan pada beberapa pihak termasuk Clara Sumarwati dan sherpa, juga dari keterangan pendaki lain yang saat itu berada di gunung. Sebagai penegasan saya ingin menyampaikan bahwa photo tsb tidak menunjukkan apapun yang memberikan indikasi apalah Clara berada di puncak atau tidak. Tetapi lebih pada mencari tahu konsistensi dari narasumber. Dengan photo itu juga tidak berarti Clara tidak mencapai puncak. Dengan atau tanpa photopun, fakta bahwa jika Clara mencapai puncak bisa didapat dari sumber yang lain. Saya tegaskan, photo bukan satu-satunya bukti, tetapi hanya menjadi penguat klaim. Tanpa photo puncak-pun, seorang pendaki tetap bisa diakui.


foto 1 diambil dari Clara Sumarwati Facebook, photo 2 dari Suryatmaning Hany.